Trump Dikecam Habiskan Rp1.763 T untuk Perang, Iran Akan Deklarasikan Zona Terlarang di Luar Hormuz

AKURAT. CO SUMSEL - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dikecam habis-habisan oleh Senator AS, Mark Warmer atas biaya dan perang melawan Iran yang telah berlangsung selama enam bulan lebih.
Dalam sebuah pesan video yang diunggah di X, Warner mengatakan bahwa perang tersebut telah menghabiskan biaya USD100 miliar (lebih dari Rp1.763 triliun) bagi rakyat Amerika, dengan angka yang terus meningkat sebesar USD1 juta (Rp17,6 miliar) setiap dua menitnya.
Warner berpendapat bahwa beban biaya finansial akan terus membengkak tanpa adanya kemajuan menuju tujuan-tujuan yang digariskan Trump untuk perang tersebut.
Baca Juga: Antrean Solar Makin Panjang di Sumsel, Herman Deru Minta Pertamina Benahi Pasokan
Senator tersebut mengatakan bahwa situasi ini mencerminkan konsekuensi dari keterlibatan dalam perang tanpa persiapan yang memadai atau strategi yang jelas.
Dia menutup kritik pedasnya dengan mendesak rakyat Amerika untuk menentang pendekatan pemerintah Trump, dengan mengatakan: "Bangkitlah, bersuara, dan lawanlah."
Iran Bakal Deklarasikan Zona Terlarang Baru di Luar Selat Hormuz
Di sisi lain, pejabat tinggi keamanan Iran Mayor Jenderal Mohsen Rezaeimengumumkan bahwa zona terlarang baru akan diumumkan di luar Selat Hormuz dalam beberapa hari mendatang.
Baca Juga: Nyebur ke Rawa Saat Hendak Ditangkap, Pelaku Curas di Palembang Akhirnya Diringkus Polisi
Dia memperingatkan bahwa kapal apa pun yang memasuki wilayah tersebut tanpa koordinasi dengan Teheran akan dimasukkan dalam daftar sanksi Iran.
Zona tersebut akan dimulai dari garis blokade Angkatan Laut AS dan meluas ke beberapa bagian Teluk Persia yang mencakup wilayah pelabuhan pemuatan.
Kapal yang bergerak menuju selat dari kedua sisi dan memasuki wilayah yang ditentukan akan dikenakan sanksi dengan konsekuensi asuransi dan lintas di masa depan.
Baca Juga: Info Harga Terbaru Emas Perhiasan Palembang Selasa 8 September 2026
Dia juga menjelaskan bahwa Selat Hormuz sepenuhnya tertutup dan berada di bawah kendali angkatan bersenjata.
Pernyataan tersebut bertolak belakang dengan klaim Presiden AS Donald Trump bahwa jalur perairan strategis itu tetap terbuka.
Ekonomi Iran dan AS Sama-sama Hancur
Perang yang sudah bergulir sejak akhir Februari 2026 sebenarnya sudah membuat perekonomian kedua negara ini babak belur.
Baca Juga: Kabut Asap Tebal di Jakabaring Palembang, Toyota Avanza Masuk Saluran Air
Baik Iran maupun AS sama-sama telah menghabiskan biaya besar selama peperangan berlangsung.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf dalam pidatonya mengungkapkan bahwa Iran kini tengah berhadapan dengan perang di bidang ekonomi yang ditandai fluktuasi nilai tukar, inflasi, pengangguran, dan persoalan pengelolaan pasar.
Ia meminta pemerintah bertindak cepat karena masyarakat yang akan menanggung kesulitan ekonomi.
Baca Juga: Viral, Ibu Hamil Hentikan Mobil Patroli di Lubuklinggau karena Ngidam Naik Mobil Polisi
Sementara itu, Pemerintah Iran mengumumkan harga bensin untuk konsumsi di atas 110 liter per bulan naik dua kali lipat mulai Selasa (8/9/2026), dari 5.000 toman menjadi 10.000 toman per liter.
Kebijakan tersebut ditempuh ketika upaya AS membatasi ekspor minyak Iran, akses valuta asing, dan jaringan perdagangan menekan penerimaan negara serta aktivitas ekonomi Teheran.
Di sisi lain, Amerika juga merasakan tekanan ekonomi akibat perang melawan Iran.
Baca Juga: OJK Blokir 659 Ribu Rekening Terkait Scam, Dana Korban yang Diamankan Rp771,2 Miliar
Harga Brent pada Senin (7/9/2026) mendekati USD100 per barel dan sekitar 35% lebih tinggi dibandingkan akhir Februari.
Sementara harga diesel AS telah mencapai rekor dan sekitar 90% lebih tinggi dibandingkan sebelum perang, meningkatkan risiko inflasi di sektor transportasi, pelayaran, pertanian, dan manufaktur.
Kenaikan harga energi turut memperumit kebijakan moneter AS.
Baca Juga: Gunung Anak Krakatau Erupsi Lagi Pagi Ini, Berikut 3 Link untuk Pantau Sebaran Abu Vulkanik
Data ketenagakerjaan yang kuat menunjukkan ekonomi AS masih relatif tangguh, dengan penambahan 162.000 pekerjaan pada Agustus dan tingkat pengangguran 4,1%, tetapi tekanan harga energi membuat pasar kembali memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve pada September. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Pencairan Bansos PKH BPNT Tahap 4 Oktober 2026 Segera Berakhir, Bagaimana BLT Kesra?
- 2Penyaluran Bansos Tahap 4 Oktober 2026 Berakhir Besok, Ini Tanda Bantuan Cair dan Masuk Rekening
- 3Hari Ini 28 Oktober 2026 Libur atau Tidak? Cek Ketentuan SKB 3 Menteri
- 4Samsung Galaxy A08 Resmi Meluncur di India, Ini Spesifikasi dan Harganya
- 5Lantik 23 Pejabat Pemkot Palembang, Ratu Dewa Tekankan Kinerja dan Pelayanan Publik
- 6Pendaftaran KIP Kuliah 2026 Ditutup 31 Oktober, Ini Syarat dan Cara Daftarnya
- 7Harga Emas Perhiasan Palembang Hari Ini Masih Stagnan, Saatnya Beli?
- 8Ramalan Zodiak Hari Ini 31 Oktober 2026, Bagaimana Nasib Asmara dan Keuanganmu?
- 9Lindungi Warga dari Asap Karhutla, Puskesmas di Sumsel Diminta Buka 24 Jam
- 105.303 Jemaah Haji Debarkasi Palembang Sudah Kembali, Empat Kloter Masih Ditunggu








