Sumsel

Investasi Indonesia Tembus Rp3.923 Triliun, Rosan Roeslani Tekankan Kualitas dan Penyerapan Tenaga Kerja

Kurnia | 31 Oktober 2026, 20:00 WIB
Investasi Indonesia Tembus Rp3.923 Triliun, Rosan Roeslani Tekankan Kualitas dan Penyerapan Tenaga Kerja

AKURAT.CO SUMSEL Pemerintah mulai mengarahkan kebijakan investasi tidak hanya pada peningkatan nilai modal yang masuk ke Indonesia, tetapi juga pada manfaat ekonomi yang dihasilkan.

Penyerapan tenaga kerja, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), dan transfer teknologi menjadi perhatian dalam mendorong investasi berkualitas.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Roeslani, mengatakan investasi yang masuk harus mampu memberikan dampak lebih luas bagi perekonomian nasional.

Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, realisasi investasi sejak kuartal IV 2024 hingga kuartal III 2026 mencapai Rp3.923,2 triliun.

Jumlah tersebut setara 30,1 persen dari target investasi sebesar Rp13.032,8 triliun hingga 2029.

Dari total realisasi tersebut, penanaman modal dalam negeri (PMDN) mencapai Rp1.998,7 triliun, sedangkan penanaman modal asing (PMA) sebesar Rp1.924,5 triliun.

Investasi tersebut juga tercatat menyerap sekitar 5,48 juta tenaga kerja.

Baca Juga: Razia Dua Tempat Hiburan Malam di Palembang, Polisi Amankan 17 Orang dan 6 Butir Ekstasi

Meski realisasi investasi menunjukkan angka besar, Rosan menilai keberhasilannya tidak cukup hanya dilihat dari nilai modal yang ditanamkan. Investasi juga harus memberikan kesempatan kerja yang berkualitas serta meningkatkan kemampuan tenaga kerja lokal.

"Tetapi memang, kalau kita lihat, investasi yang masuk ini tentunya kita harapkan adalah investasi yang berkualitas. Investasi yang berkualitas, kami melihatnya adalah investasi yang bisa meningkatkan sumber daya manusia kita, ada transfer knowledge dan teknologi, dan tentunya adalah penciptaan lapangan kerja yang berkualitas," kata Rosan dikutip dari YouTube Kadin, Sabtu (31/10/2026).

Salah satu sektor yang dinilai menunjukkan potensi peningkatan nilai tambah investasi adalah industri hilirisasi nikel.

Rosan menjelaskan, Indonesia memiliki sekitar 46 persen cadangan nikel dunia. Sebelum pengembangan industri pengolahan di dalam negeri, nilai ekspor nikel Indonesia tercatat sekitar 3,3 miliar dolar AS.

Namun, setelah kebijakan hilirisasi dan pengembangan produk turunan dilakukan, nilai ekspor mengalami peningkatan.

Pada 2025, ekspor nikel beserta produk turunannya tercatat mencapai 30 miliar dolar AS.

"Di tahun 2025, ekspor nikel dan turunannya itu sudah mencapai USD30," ujar Rosan.

Menurutnya, peningkatan tersebut menunjukkan besarnya peluang ekonomi dari pengolahan sumber daya alam di dalam negeri. Melalui hilirisasi, Indonesia tidak hanya menjual bahan mentah, tetapi juga mengembangkan industri yang menghasilkan produk dengan nilai tambah lebih tinggi.

Meski demikian, Rosan mengingatkan bahwa manfaat hilirisasi perlu diikuti peningkatan kemampuan tenaga kerja nasional. Transfer pengetahuan dan teknologi juga dinilai penting agar industri dalam negeri mampu berkembang dan memiliki daya saing.

Selain industri berskala besar, pemerintah juga mendorong keterlibatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam ekosistem investasi nasional.

Rosan berharap Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia dapat memperkuat pendampingan serta membuka peluang kemitraan antara UMKM dan perusahaan besar.

Ia juga berharap jumlah UMKM ke depan semakin berkurang karena semakin banyak pelaku usaha kecil yang berhasil mengembangkan bisnisnya menjadi usaha menengah hingga besar.

Dengan demikian, pertumbuhan investasi diharapkan tidak hanya meningkatkan nilai penanaman modal, tetapi juga memperkuat kapasitas industri nasional, membuka lapangan kerja, dan mendorong UMKM naik kelas.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia