Sumsel

Ogan Ilir Catat IPG Tertinggi di Sumsel, Musi Banyuasin Terendah pada 2024

Maman Suparman | 14 Oktober 2025, 19:00 WIB
Ogan Ilir Catat IPG Tertinggi di Sumsel, Musi Banyuasin Terendah pada 2024

AKURAT.CO SUMSEL Kesenjangan pembangunan antara laki-laki dan perempuan di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) masih menunjukkan variasi yang cukup lebar antarwilayah.

Berdasarkan data terbaru tahun 2024, Kabupaten Ogan Ilir mencatatkan Indeks Pembangunan Gender (IPG) tertinggi di Sumsel dengan angka 98,89, sementara Musi Banyuasin berada di posisi terendah dengan nilai 83,78.

Secara keseluruhan, IPG Sumatera Selatan mencapai 93,22, angka ini menunjukkan bahwa pembangunan di bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi antara laki-laki dan perempuan semakin setara, meskipun masih terdapat kesenjangan di beberapa daerah.

Kabupaten Ogan Ilir menempati posisi puncak IPG 2024 dengan capaian hampir mendekati kesetaraan sempurna antara laki-laki dan perempuan.

Disusul oleh Lubuk Linggau (95,27), Pagar Alam (95,12), dan Palembang (96,64) yang menunjukkan kesetaraan gender relatif tinggi.

Sementara itu, Musi Banyuasin (83,78) dan Musi Rawas (86,78) menjadi dua daerah dengan capaian IPG terendah di Sumsel.

Baca Juga: Pemkab Muara Enim Jajaki Pembangunan Jalan Tembus Bengkulu, Pangkas Jarak Jadi 14 Kilometer

Kondisi ini mencerminkan masih adanya kesenjangan signifikan dalam akses pendidikan, kesehatan, maupun partisipasi ekonomi bagi perempuan di wilayah tersebut.

“Angka ini menjadi cerminan bahwa masih perlu upaya serius dalam meningkatkan pemberdayaan perempuan, terutama di daerah dengan capaian IPG rendah,” ujar salah satu analis statistik pembangunan Sumsel.

Beberapa daerah lainnya menunjukkan capaian yang relatif stabil, seperti OKU Timur (94,83), Lahat (94,99), dan Prabumulih (94,09).

Sementara Muara Enim (90,14) dan Banyuasin (89,90) masih perlu dorongan lebih kuat agar kesetaraan gender dapat berjalan optimal di berbagai sektor.

Peningkatan IPG tidak hanya menggambarkan kemajuan dalam pembangunan sosial, tetapi juga menjadi indikator penting terhadap pemberdayaan ekonomi perempuan, yang diyakini mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah secara lebih inklusif.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
K
Editor
Kurnia