Sumsel

Hasil Sementara Pemilu Israel 2026, Blok Netanyahu Menang atau Kalah?

Septiyanti Dwi Cahyani | 28 Oktober 2026, 16:04 WIB
Hasil Sementara Pemilu Israel 2026, Blok Netanyahu Menang atau Kalah?
Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel

AKURAT. CO SUMSEL - Masyarakat Israel baru saja melaksanakan Pemilu pada Selasa (27/10/2026).

Hasil sementara pemilu Israel menunjukkan Likud, partai Benjamin Netanyahu unggul dalam perolehan suara dan proyeksi kursi parlemen.

Meski begitu, Netanyahu belum bisa dipastikan menang ataupun kalah dalam perebutan kekuasaan.

Baca Juga: Enam Pria Positif Narkoba Saat Penggerebekan di Palembang, Polisi Sita Paket Sabu

Hasil penghitungan suara sementara dan exit poll menunjukkan, persaingan ketat antara blok Netanyahu dan kubu oposisi yang dipimpin Gadi Eisenkot, mantan kepala staf militer Israel.

Pemilu ini menjadi ujian politik bagi Netanyahu, yang telah lama memimpin Israel dan menghadapi kritik terkait kegagalan keamanan dalam serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, perang berkepanjangan, serta kebijakan wajib militer bagi kelompok Yahudi ultra-Ortodoks.

AP News menyebut jika dari hasil jajak pendapat saat pemilih keluar dari tempat pemungutan suara, menunjukkan penurunan dukungan terhadap partai-partai ultra-Ortodoks.

Baca Juga: Peringati Sumpah Pemuda ke-98, Ratu Dewa Ajak Anak Muda Palembang Berinovasi

Sementara itu, berdasarkan data sementara yang dilaporkan Anadolu Agency, Rabu(28/10/2026) dari penghitungan sekitar 49,7 persen suara, blok pendukung Netanyahu diproyeksikan memperoleh 56 kursi di Knesset dari 120 kursi yang diperebutkan.

Blok oposisi yang dipimpin Gadi Eisenkot diperkirakan meraih 49 kursi, sedangkan partai-partai yang didominasi kelompok Arab diproyeksikan memperoleh 15 kursi.

Secara perolehan partai, Likud yang dipimpin Netanyahu tercatat unggul dengan proyeksi 27 kursi, disusul Partai Yashar pimpinan Eisenkot dengan 21 kursi.

Baca Juga: Tak Tahan Anaknya Kecanduan Sabu, Ibu di Palembang Serahkan ke Polisi

Namun, kemenangan Likud sebagai partai dengan perolehan kursi terbanyak tidak otomatis menjamin Netanyahu kembali menjadi perdana menteri.

Dalam sistem parlementer Israel, pemerintahan harus dibentuk melalui koalisi yang memiliki dukungan mayoritas anggota Knesset.

Kunci penentuan pemenang pemilu Israel bukan hanya partai yang memperoleh suara terbanyak, melainkan kemampuan membentuk koalisi pemerintahan.

Baca Juga: DKPP Sumsel Pastikan Stok Pangan Cukup, Harga Sejumlah Komoditas Fluktuatif

Knesset memiliki 120 kursi, sehingga sebuah koalisi membutuhkan sedikitnya 61 kursi untuk menguasai mayoritas parlemen.

Dengan proyeksi 56 kursi, blok Netanyahu masih kekurangan lima kursi untuk mencapai mayoritas.

Blok oposisi yang dipimpin Eisenkot, dengan proyeksi 49 kursi, juga belum dapat membentuk pemerintahan sendiri.

Baca Juga: Mendadak Minta Bertemu Prabowo, Menlu Singapura Dijadwalkan ke Istana Sore Ini

Kedua kubu harus mencari dukungan dari partai lain untuk memastikan calon perdana menteri mereka dapat memimpin pemerintahan.

Secara matematis, blok oposisi Eisenkot yang memiliki proyeksi 49 kursi dapat mencapai 64 kursi apabila memperoleh dukungan dari seluruh 15 anggota parlemen yang diproyeksikan berasal dari partai-partai Arab.

Jumlah tersebut melampaui ambang mayoritas 61 kursi.

Baca Juga: Kaspersky Ungkap 3 Modus Penipuan iPhone Duo, Waspada Diskon Palsu 25 Persen

Namun, dukungan itu belum tentu terwujud dalam kesepakatan politik. Netanyahu secara terbuka menolak membentuk pemerintahan yang bergantung pada partai-partai Arab.

Di sisi lain, Eisenkot menyatakan terbuka terhadap kemungkinan bekerja sama dengan mereka dengan persyaratan tertentu. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.