Sumsel

Stunting di Sumsel Turun Signifikan, Jadi Provinsi Kedua Terbesar dalam Penurunan Kasus Nasional

Maman Suparman | 30 Mei 2025, 19:00 WIB
Stunting di Sumsel Turun Signifikan, Jadi Provinsi Kedua Terbesar dalam Penurunan Kasus Nasional

AKURAT.CO  SUMSEL Upaya pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) dalam menekan angka stunting menunjukkan hasil positif.

Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024 yang diumumkan Mei 2025, prevalensi stunting di Sumsel tercatat sebesar 15,9 persen atau setara 117.905 balita.

Angka ini menempatkan Sumsel di urutan ke-15 secara nasional untuk jumlah kasus terbanyak, namun juga mencatatkan penurunan tajam dibanding tahun sebelumnya.

Sekretaris Dinas Kesehatan Sumsel, Ferry Fahrizal, mengungkapkan bahwa prevalensi stunting di wilayahnya mengalami penurunan sebesar 4,4 persen dari angka sebelumnya yang mencapai 20,3 persen. Penurunan tersebut merupakan salah satu yang tertinggi di Indonesia.

Baca Juga: Dilaporkan Nenek Penjual Ikan Asin di Palembang, Pedangang Ini Balik Lapor Kasus Penganiayaan

"Ini merupakan pencapaian signifikan. Sumsel berada di peringkat kedua untuk penurunan stunting secara nasional setelah Jawa Barat," kata Ferry dalam keterangannya, Jumat (30/5/2025).

Penurunan tertinggi secara nasional tercatat di Jawa Barat dengan 5,8 persen. Meski prevalensinya sama dengan Sumsel, yakni 15,9 persen, jumlah kasus stunting di Jawa Barat mencapai 638.348 balita karena populasi balitanya jauh lebih besar.

Ferry menekankan bahwa keberhasilan ini merupakan hasil kolaborasi lintas sektor dan fokus pada intervensi gizi yang dilakukan sejak masa remaja dan kehamilan.

"Ada 11 intervensi spesifik yang kami terapkan, terutama menyasar remaja putri dan ibu hamil. Pendampingan gizi, skrining kesehatan, serta edukasi berkelanjutan menjadi kunci utamanya," jelasnya.

Sebagai perbandingan, provinsi dengan angka stunting tinggi lainnya di antaranya Jawa Tengah (485.893 balita/17,1 persen), Jawa Timur (430.780 balita/14,7 persen).

Lalu, Sumatera Utara (316.456 balita/22 persen), Nusa Tenggara Timur (214.143 balita/37 persen), dan Banten (209.600 balita/21,1 persen).

Secara nasional, prevalensi stunting juga menunjukkan tren penurunan, dari 21,5 persen pada 2023 menjadi 19,8 persen pada 2024.

Pemerintah pusat menargetkan angka ini turun hingga 14,2 persen pada tahun 2029 sebagaimana tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
K
Editor
Kurnia