Sumsel

Menilik Sejarah Gedung Negara Grahadi, Cagar Budaya Surabaya yang Hangus Dibakar Massa

St Shofia Munawaroh | 1 September 2025, 07:00 WIB
Menilik Sejarah Gedung Negara Grahadi, Cagar Budaya Surabaya yang Hangus Dibakar Massa

AKURAT.CO SUMSEL - Aksi unjuk rasa berujung ricuh masih terjadi di sejumlah daerah di Indonesia.

Setelah gedung DPDRD Makassar dan juga Solo, kini giliran gedung Grahadi Surabaya yang hangus dibakar massa.

Aksi pembakaran ini terjadi pada Sabtu (30/8/2025) sekitar pukul 22.53 WIB.

Baca Juga: Diabetes Mengintai Anak, Dokter Ingatkan Orang Tua Lebih Waspada

Si jago merah terlihat membakar gedung di bagian barat Grahadi.

Momen terbakarnya gedung Grahadi kemudian viral di media sosial.

Banyak warganet yang menyayangkan bahkan mengecam tindakan anarkis yang dilakukan para demonstran.

Baca Juga: Palembang Dominasi Jumlah Hotel, Muratara Nihil Akomodasi

Pasalnya, Grahadi bukan hanya sekedar bangunan yang difungsikan sebagai rumah dinas Gubernur.

Melainkan salah satu cagar budaya yang sudah ada sejak masa penjajahan kolonial Belanda.

Sejarah Gedung Grahadi Surabaya

Baca Juga: Sumsel Darurat Karhutla: 346 Kasus Tercatat, Ogan Ilir Jadi Episentrum Kebakaran

Gedung Grahadi merupakan salah satu bangunan ikonik yang ada di Surabaya, Jawa Timur.

Lokasinya di Jalan Gubernur Suryo, Embong Kaliasin, Kecamatan Genteng, Surabaya.

Gedung ini memiliki perjalanan sejarah yang panjang dan erat kaitannya dengan masa penjajahan kolonial Belanda dan perkembangan pemerintahan di Jawa Timur.

Baca Juga: Dermaga Gandus Palembang Nyaris Lumpuh, Ponton Bocor Bikin Warga Kesulitan Akses Transportasi

Gedung Grahadi atau Gedung Negara Grahadi dibangun pada tahun 1975 di masa Residen Dirk Van Hogendorp.

Awalnya, gedung ini dibangun untuk tempat pertemuan resmi sekaligus jamuan bagi pejabat Belanda dan kaum elite Eropa.

Selain itu, gedung Grahadi juga digunakan untuk kegiatan sosial, pesta dansa dan pertemuan strategis kaum Eropa.

Baca Juga: Land Rover Merah Terbakar di Parkiran PTC Palembang, Diduga Korsleting Listrik

Letaknya yang tepat berdampingan dengan Kali Mas kala itu memberi nuansa indah lantaran sungainya yang masih bersih, jernih dan menjadi jalur utama transportasi.

Seiring berjalannya waktu, Grahadi mulai meluas menjadi pusat kegiatan pemerintahan Hindia Belanda di Surabaya.

Banyak kebijakan penting terkait tata kelola pelabuhan dan perdagangan lahir di gedung ini.

Baca Juga: Rumah Ahmad Sahroni Dijarah Warga, Pagar hingga Mobil Mewah Dirusak

Pasca proklamasi, Gedung Negara Grahadi sempat diperebutkan oleh pejuang Indonesia dan Belanda yang ingin kembali menguasai Surabaya.

Grahadi berhasil diambil alih pemerintah Indonesia setelah peristiwa Pertempuran 10 November 1945.

Sejak itu, Gedung Negara Grahadi baru ditetapkan sebagai rumah dinas resmis Gubernur Jawa Timur hingga saat ini.

Baca Juga: Momen Sri Sultan Hamengkubuwono X Temui Perwakilan Massa dalam Aksi Solidaritas Affan di Yogyakarta

Selain itu, Gedung Negara Grahadi juga difungsikan sebagai tempat Gubernur menerima tamu-tamu dari luar negeri, pemerintahan dan tempat pelantikan pejabat-pejabat Jawa Timur.

Arsitektur Gedung Grahadi

Gedung Negara Grahadi memiliki gaya arsitektur khas kolonial Belanda abad 18 dengan sentuhan neoklasik.

Baca Juga: Mahasiswa Sumsel Bersatu, Gemarak Siap Gelar Aksi Besar Tuntut Pemerintah Pro Rakyat

Bangunan utamanya ditopang pilar-pilar besar, langit-langit tinggi dan jendela-jendela lebar yang dirancang untuk menghadapi iklim tropis.

Bagian depannya yang menghadap Kali Mas dikelilingi taman luas yang dulunya dijadikan tempat bersantai para pejabat Belanda.

Hingga kini, sebagian besar struktur asli masih dipertahankan meski mengalami beberapa renovasi.

Baca Juga: Zulhas Ingatkan Legislator PAN Jangan Flexing, Jangan Arogan

Ruang dalam di dalamnya menyimpan sejumlah perabot antik, lukisan, dan peninggalan masa kolonial yang dirawat sebagai warisan sejarah.

Fungsi Gedung Grahadi

Sejak tahun 1870, gedung ini telah menjadi kediaman resmi Residen Surabaya yang membawahi wilayah kota Surabaya dan sekitarnya.

Baca Juga: Dua Pria di Palembang Jadi Korban Pengeroyokan, Satu Alami Luka Tusuk

Yaitu Gresik, Sidoarjo, Jombang dan Mojokerto.

Selanjutnya, Gedung Grahadi yang menjadi rumah dinas Gubernur Jawa Timur pada masa Hindia Belanda berlanjut sampai masa penjajahan Jepang antara tahun 1942-1945, hingga diproklamasikannya kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945-sekarang.(*)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.