Sumsel

Prevalensi Stunting Sumsel Naik 1,7%, Upaya Penurunan Terus Dioptimalkan

Deni Hermawan | 21 Oktober 2024, 20:00 WIB
Prevalensi Stunting Sumsel Naik 1,7%, Upaya Penurunan Terus Dioptimalkan

AKURAT.CO SUMSEL Angka stunting di Sumatera Selatan (Sumsel) mengalami kenaikan pada tahun 2023. Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI), prevalensi stunting di Sumsel meningkat sebesar 1,7%, dari 18,6% pada 2022 menjadi 20,3% pada 2023.

Peningkatan ini menjadi sorotan karena kasus stunting di Sumsel sempat turun signifikan pada 2022, yaitu dari 24,8% pada 2021 menjadi 18,6%. Sebelumnya, prevalensi stunting diukur melalui Survei Status Gizi Indonesia (SSGI).

Meskipun ada penurunan pada 2022, angka terbaru tahun 2023 menunjukkan Sumsel masih cukup jauh dari target nasional dan daerah yang ditetapkan untuk 2024, yaitu sebesar 14%.

Selisih 6,3% antara angka stunting saat ini dan target nasional tersebut menjadi tantangan besar bagi pemerintah daerah untuk menurunkan prevalensi stunting dalam waktu singkat.

Kepala Dinas Kesehatan Sumsel, Trisnawarman, mengakui tantangan tersebut, namun ia tetap optimis bahwa target bisa tercapai.

"Dtahun in kita harapkan bisa di bawah 14%. Tapi, itu semua tergantung dari cara surveinya menggunakan metode apa," ungkapnya pada Senin (21/10/2024).

Ia menjelaskan bahwa metode pengukuran kasus stunting pada 2023 menggunakan SKI, sementara sebelumnya menggunakan SSGI. Pada 2024, metode SSGI akan kembali digunakan, dan Trisnawarman berharap hasil survei terbaru bisa menunjukkan penurunan angka stunting.

"Saat ini kami tengah mengajukan penggunaan sistem e-PPGBM (elektronik-Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat) karena dinilai memberikan hasil yang lebih akurat. Namun, untuk tahun ini, kembali lagi kita memakai metode SSGI. Kita tunggu hasilnya nanti," tambahnya.

Baca Juga: Bantu Cegah Stunting, DWP Sumsel dan DWP BPBD Sumsel Gelar Sosialisasi dan Beri Bantuan di Muba

Dari data SKI pada 2023, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) mencatat angka stunting tertinggi di Sumsel, dengan prevalensi mencapai 33,1%.

Angka ini jauh meningkat dibandingkan hasil SSGI pada 2022 yang menunjukkan 20,2%. Kabupaten Empat Lawang menyusul dengan prevalensi stunting sebesar 32,6% (2022: 18,5%), diikuti oleh Ogan Komering Ilir (OKI) sebesar 32,5% (2022: 15,1%).

Beberapa daerah lain juga mencatat kenaikan signifikan, termasuk Muara Enim dengan angka 25,9% (2022: 22,8%) dan Pagar Alam 23,3% (2022: 11,6%).

Meski begitu, beberapa wilayah di Sumsel berhasil menurunkan angka stunting, seperti Ogan Ilir yang turun dari 24,9% pada 2022 menjadi 22,9% pada 2023, dan Banyuasin yang juga turun dari 24,8% menjadi 20,4%. Di sisi lain, Palembang mencatat angka stunting sebesar 18,9% pada 2023, naik dari 14,3% pada 2022.

Kenaikan dan penurunan angka stunting di berbagai wilayah menunjukkan adanya variasi dalam penanganan stunting di Sumsel. Sebagian besar daerah dengan prevalensi stunting tinggi menghadapi tantangan besar dalam mencapai target 2024.

Trisnawarman menekankan pentingnya peningkatan koordinasi dan intervensi yang lebih tepat sasaran untuk menekan angka stunting di Sumsel.

"Angka stunting rata-rata di Indonesia mencapai 21,5%, sedangkan di Sumsel sedikit lebih rendah, yakni 20,3%. Meskipun begitu, upaya keras tetap diperlukan untuk mencapai target 14%," tutupnya. (Kurnia)

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

D
H
Editor
Hermanto