Oh Ternyata Ini Makna dari Tradisi Ngidang Dalam Masyarakat Kota Palembang

AKURAT.CO SUMSEL Salah satu tradisi peninggalan leluhur Kota Palembang adalah Ngidang.
Tradisi Ngidang Kota Palembang ini bertujuan dan memiliki makna untuk mempererat tali silaturahmi, gotong royong, dan sekaligus menghormati tamu.
Ngidang atau yang biasa disebut idangan adalah tradisi leluhur yang berasal dari Kesultanan Palembang Darussalam di masa Sultan Mahmud Baddarudin, yang menyimpan banyak makna dari warisan leluhur tersebut.
Hingga saat ini, meskipun jarang, tradisi ngidang masih dapat ditemukan di Palembang.
Sebagai hasil dari akulturasi, tradisi ngidang terpengaruh oleh budaya Arab dan Islam. Pada zaman Kesultanan Palembang, pelaksanaannya memperhatikan pemisahan antara pria dan wanita. Dahulu, semua pria akan makan terlebih dahulu, baru kemudian wanita.
Baca Juga: Wisata Rumah Si Pitung : Destinasi Bersejarah di Jakarta dengan Tradisi Betawi yang Kental
Namun, pada pelaksanaan ngidang saat ini, aturan semacam itu sudah tidak begitu diperhatikan, sehingga pria dan wanita dapat makan bersama-sama atau dalam satu kelompok yang terdiri dari delapan orang.
Ngidang merupakan tradisi makan khas Palembang yang dilakukan secara berkelompok, biasanya oleh delapan orang atau lebih sedikit.
Secara mendasar, ngidang adalah proses penyajian makanan mulai dari memasak hingga makan bersama.
Dalam pelaksanaannya, ada nama-nama untuk para penyajinya, seperti panggung untuk orang yang memasak atau juru masak, sementara proses memasaknya disebut manggung.
Ngobeng sendiri adalah nama bagi mereka yang menghidangkan makanan dari dapur hingga meja makan.
(Dandy Dwi Putra Handho)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini








