Sumsel

Dampak Musim Panas dan Gagal Panen, Harga Beras Premium di Palembang Terus Melonjak

Deni Hermawan | 23 Februari 2024, 17:30 WIB
Dampak Musim Panas dan Gagal Panen, Harga Beras Premium di Palembang Terus Melonjak

AKUART.CO SUMSEL Ketersediaan beras premium di pasar tradisional Kota Palembang mengalami langkah, sementara harganya juga mengalami kenaikan.

Asisten Manager Sekretariat, Umum, dan Humas Bulog Sumsel, Kurniawan Len Mantazaka, mengonfirmasi bahwa stok beras premium saat ini terbatas karena belum memasuki masa panen raya dan curah hujan yang tinggi menyebabkan produksi gabah menurun.

"Stok beras premium hasil produksi lokal tidak dalam volume yang besar karena dampak dari cuaca dan masa panen yang belum tiba," ujarnya pada Jumat (23/2/2024).

Kurniawan menjelaskan bahwa stok beras premium tidak mencukupi, dan Badan Pusat Statistik (BPS) secara berkala mencatat pergerakan harga beras premium di pasar.

Baca Juga: Terkait Kelangkaan dan Tingginya Harga Beras Premium, Dinas Perdagangan Sumsel Beri Penjelasan

Indikator kerawanan pangan, seperti neraca bahan makanan, mencerminkan kondisi beras, terutama beras premium yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat.

Di Pasar Kuto,penjual beras bernama Alung mengakui bahwa dia tidak menjual beras premium selama hampir tiga bulan karena harganya yang tinggi.

Sebagai alternatif, ia hanya menjual beras Bulog SPHP dengan harga yang lebih terjangkau.

"Harga beras premium di toko saya kosong selama hampir 3 bulan ini karena cukup tinggi. Saya hanya menjual beras dari pemerintah, dan harganya lebih murah," jelasnya.

Meski harga beras premium melonjak, toko milik Bakri tetap menjualnya karena kualitas yang baik.

Meskipun harganya lebih tinggi daripada beras Bulog SPHP, masih banyak masyarakat yang mencari beras premium karena kualitasnya yang dianggap lebih baik.

"Harga beras premium memang tinggi, tetapi saya tetap menjualnya karena kualitasnya baik dan rasanya berbeda. Stok beras Bulog lebih banyak, tetapi beras premium tetap dijual karena masih banyak yang membeli meski harganya mahal," ujarnya. (Kurnia)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

D
H
Editor
Hermanto