Sumsel

5 Kunci Memahami Teman yang "Emosian" untuk Hubungan yang Lebih Sehat

Haris Ma'ani | 6 Desember 2025, 10:00 WIB
5 Kunci Memahami Teman yang "Emosian" untuk Hubungan yang Lebih Sehat

AKURAT.CO SUMSEL - Memiliki teman dengan temperamen yang fluktuatif atau "emosian" seringkali menjadi tantangan tersendiri.

Perbedaan cara mengelola emosi bisa memicu ketegangan dan menguji kualitas persahabatan.

Namun, para ahli psikologi menyarankan bahwa memahami akar dari sifat emosional tersebut adalah kunci untuk menciptakan lingkungan pertemanan yang lebih suportif dan mengurangi konflik yang tidak perlu.

Baca Juga: 5 Film Wajib Tonton di Bioskop Akhir Pekan Ini!

Persahabatan yang matang bukan tentang mencari teman yang sempurna, melainkan bagaimana kita beradaptasi dengan keunikan masing-masing.

Berikut adalah 5 hal penting yang harus Anda pahami saat berhadapan dengan teman yang mudah emosi:

1. Emosi Seringkali Bukan Tentang Anda (Ambil Jarak Personal)

Baca Juga: Hasil Drawing Piala Dunia 2026: Juara Bertahan Argentina Satu Grup dengan Austria dan Aljazair

Hal pertama yang harus disadari adalah bahwa luapan emosi teman Anda seringkali merupakan manifestasi dari tekanan pribadi, stres, atau rasa tidak berdaya yang sedang ia alami.

Alih-alih langsung merasa diserang, coba pahami bahwa Anda mungkin hanya menjadi trigger (pemicu) atau sasaran terdekat untuk pelepasan emosi yang sudah menumpuk.

 Dengan tidak terpancing dan tidak mengambil makian secara personal, Anda akan memutus siklus kemarahan dan mencegah situasi memburuk.

Baca Juga: Kabar Gembira, Menteri PKP dan PWI Akan Fasilitasi 5.000 Rumah untuk Wartawan

2. Mereka Butuh Didengarkan, Bukan Dinasihati Saat Itu Juga (Prioritaskan Empati)

Saat seseorang sedang dilanda emosi, otak logisnya (korteks prefrontal) seringkali tidak berfungsi optimal. Nasihat atau solusi pada momen itu justru bisa memperkeruh keadaan.

Biarkan mereka meluapkan emosi mereka terlebih dahulu.

Baca Juga: Gara-gara Uang, IRT di Palembang Jadi Korban KDRT Suami hingga Masuk Rumah Sakit

Tawarkan telinga Anda sebagai tempat yang aman, bukan sebagai ruang sidang.

Cobalah kalimat sederhana seperti, "Aku mengerti kamu pasti sangat marah/kecewa dengan situasi ini."

Tindakan mengakui perasaan mereka (meski Anda tidak membenarkan perilakunya) adalah langkah pertama untuk meredakan amarah.

3. Perhatikan Bahasa Tubuh dan Lingkungan (Ubah Keadaan Fisik)

Baca Juga: Status Siaga Penuh, Palembang Ditetapkan BMKG dalam Kategori Siaga Banjir

Interaksi fisik berperan besar dalam konflik. Perubahan kecil dalam kondisi fisik dapat membantu menurunkan intensitas emosi.

Pertahankan postur tubuh yang terbuka dan tidak defensif (hindari menyilangkan tangan).

Ketenangan Anda dapat menular dan meredakan ketegangan.

Baca Juga: Sumsel Belum Tetapkan Status Siaga Darurat Bencana, Tunggu Data Cuaca Ekstrem dari BMKG

Jika memungkinkan, ajaklah teman Anda untuk pindah posisi (misalnya, dari berdiri menjadi duduk) atau tawarkan minuman.

Perubahan kecil dalam state (kondisi fisik) dapat mengalihkan fokus dari kemarahan.

4. Pentingnya Timing yang Tepat untuk Berdiskusi (Menunggu Badai Berlalu)

Baca Juga: Bandara SMB II Palembang Perketat Mitigasi Cuaca Ekstrem Jelang Puncak Libur Nataru

Menyelesaikan masalah saat kedua pihak masih diliputi amarah adalah hal yang mustahil.

Orang yang emosian membutuhkan waktu untuk menstabilkan diri.

Tunjukkan bahwa Anda bersedia menyelesaikan masalah, namun bukan saat itu juga.

Baca Juga: Sumsel Belum Tetapkan Status Siaga Darurat Bencana, Tunggu Data Cuaca Ekstrem dari BMKG

Katakan, "Aku ingin sekali membahas ini, tapi mari kita bicara 30 menit lagi setelah kita berdua tenang."

 Setelah suasana dingin, fokuskan diskusi pada langkah ke depan (solusi) daripada mengungkit kesalahan masa lalu atau berdebat siapa yang benar.

5. Tegaskan Batasan Secara Bijak (Mencintai Diri Sendiri)

Baca Juga: Jadwal Bioskop Palembang 7 Desember 2025, Banyak Film Indonesia Baru

Memahami bukan berarti membiarkan diri menjadi korban emosi negatif secara terus-menerus.

Menetapkan batasan (boundary setting) adalah tindakan menjaga diri yang esensial.

Jika teman Anda mulai berteriak atau menggunakan kata-kata menyakitkan, Anda berhak mundur.

Ucapkan, "Aku menghargai pertemanan kita, tapi aku tidak bisa melanjutkan pembicaraan ini jika kamu terus berteriak."

Ingatlah bahwa kesehatan mental Anda juga penting.

Dalam kasus ekstrem, menjaga jarak sementara bisa menjadi pilihan terbaik demi kelangsungan hubungan yang sehat di masa depan.(*) 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.