AKURAT.CO SUMSEL Asian Games 2018 tak hanya meninggalkan jejak kemegahan olahraga di Sumatera Selatan (Sumsel). Di balik sorak penonton dan gemerlap lampu stadion Jakabaring Sport City (JSC), tersimpan warisan berharga yang hingga kini masih memancarkan cahaya. Bukan dari obor api, melainkan dari matahari.
Warisan itu bernama Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Jakabaring. Kapasitasnya 2 Megawatt (MW). Pembangkit ini menjadi pelengkap tema Energy of Asia yang diusung dalam perhelatan empat tahunan itu.
Panitia menerapkan konsep ramah lingkungan di setiap aspek. Pengelolaan sampah 4R (reduce, reuse, recycle, replanting), penataan ruang terbuka hijau, hingga pembatasan kendaraan berbahan bakar fosil di kawasan JSC menjadi bagian dari keseriusan itu.
Namun, yang paling monumental adalah berdirinya PLTS Jakabaring, pembangkit tenaga surya pertama dan terbesar di Pulau Sumatera kala itu.
Dibangun dalam 13 Bulan
Proyek pembangunan PLTS Jakabaring dimulai pada Maret 2017. Hanya dalam waktu 13 bulan, pembangkit ini rampung dan langsung dioperasikan menjelang Asian Games.
Pembangunan dilakukan melalui kerja sama antara Indonesia dan Jepang lewat skema Joint Crediting Mechanism (JCM). Dua perusahaan dari kedua negara, yakni PT Sumsel Energi Gemilang dan Sharp Japan, menjadi mitra pelaksana proyek.
“Pembangunan PLTS ini merupakan mandat dari Pemprov Sumsel untuk menunjukkan bahwa Palembang siap menjadi pelopor energi hijau,” tutur Ali Kartili, Manager Operasi PT Sumsel Energi Gemilang (SEG), Selasa (14/10/2025).
PLTS ini menggunakan 5.248 keping panel photovoltaic yang dihamparkan di lahan seluas 2,5 hektare. Dilengkapi 8 inverter berkapasitas 250 KW dan 2.280 KVA transformator, seluruh sistemnya tersambung dengan jaringan tegangan menengah 20 kV milik PLN melalui Gardu Induk New Jakabaring.
PT SEG menjadi satu-satunya BUMD di Indonesia yang berhasil mengoperasikan PLTS dengan skema Independent Power Producer (IPP) dan menandatangani Power Purchase Agreement (PPA) langsung dengan PLN.
“Belum ada BUMD lain yang punya kontrak PPA dengan PLN seperti kami,” klaim Ali.
Meski tampak sederhana, mengoperasikan pembangkit surya bukan perkara mudah. Cuaca menjadi faktor penentu utama. “Saat matahari sedang peak, produksi bisa mencapai 2 Megawatt. Tapi kalau musim hujan, daya hanya sekitar 10 persen dari kapasitas. Begitu cuaca cerah, baru kembali normal,” jelas Ali.
Fluktuasi produksi ini berdampak langsung pada pendapatan perusahaan. Rata-rata pendapatan per bulan mencapai Rp120 juta, cukup untuk menutupi biaya operasional, tapi belum cukup untuk pengembalian investasi cepat.
“Untuk mencapai break even point (BEP) butuh waktu sekitar 17 tahun,” kata Ali.
Kendala lainnya adalah harga jual listrik yang diatur pemerintah. Berdasarkan Permen ESDM No. 50 Tahun 2017, tarif pembelian listrik dari EBT maksimal hanya 85 persen dari Biaya Pokok Produksi (BPP) PLN.
“Secara ekonomi memang belum menarik, tapi dari sisi ekologi dan masa depan energi, PLTS seperti ini sangat penting,” ujarnya.
Kini, setelah delapan tahun beroperasi, PLTS Jakabaring menjadi laboratorium hidup bagi pengembangan energi terbarukan di daerah. Harga investasi pun semakin kompetitif.
“Sekarang panel surya dan inverter jauh lebih murah dibanding tahun 2017. Kalau bangun PLTS baru sekarang, biayanya bisa setengahnya. Artinya, keekonomiannya makin baik,” tambah Ali.
Menurut data Institute for Essential Services Reform (IESR), potensi teknis tenaga surya di Sumatera Selatan mencapai 17.233 Megawatt-peak (MWp). Sementara untuk seluruh Sumatera, potensinya mencapai 441,15 Gigawatt (GW).
“Potensi ini sangat besar untuk dikembangkan sebagai penyedia energi bersih bagi Sumsel dan sekitarnya,” kata Rizqi M. Prasetyo, Koordinator Program Akses Energi Berkelanjutan IESR.
Kasi Konservasi Energi Dinas ESDM Sumsel, Ira Rihatini, menegaskan pihaknya terus mendorong kolaborasi dengan sektor swasta dan industri.
“Kami ingin peran swasta lebih besar untuk mengembangkan PLTS serupa. Potensi surya di Sumsel luar biasa besar,” ujarnya.
Energi Surya dan Lapangan Kerja Hijau
Potensi tenaga surya di Indonesia cukup besar untuk dikembangkan. Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), realisasi penggunaan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap hingga Juli 2025 mencapai 538,46 megawatt peak (MWp).
Total kapasitas terpasang PLTS atap tersebut tersebar pada 10.882 pelanggan PT PLN (Persero). Sementara itu, pada Juni 2025 kapasitas terpasang PLTS atap tercatat sebesar 495 MWp yang terinstalasi untuk sekitar 10.700 pelanggan PLN.
Sehingga secara bulanan, realisasi penggunaan PLTS atap tumbuh 8,78 persen per Juli 2025 menjadi 538,46 MWp dan jumlah pelanggannya tumbuh 1,7 persen secara bulanan menjadi 10.882 pelanggan.
Dorongan pengembangan PLTS juga sejalan dengan arah kebijakan nasional. Melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034, pemerintah menargetkan penciptaan 1,7 juta lapangan kerja, di mana 91 persen di antaranya adalah green jobs.
Sektor PLTS memiliki kontribusi terbesar, dengan potensi menyerap 348 ribu tenaga kerja. “Ini bukti bahwa energi bersih bukan hanya soal lingkungan, tapi juga kesejahteraan rakyat,” ujar Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo dalam keterangan persnya.
Darmawan mengatakan, pengembangan PLTS kedepannya akan terus didorong. “Energi bersih membuka kawasan industri baru, menurunkan kemiskinan, dan menumbuhkan ekonomi hijau di seluruh Indonesia,” pungkasnya.