Sumsel

Hotspot Sumsel Kembali Melonjak, OKI Jadi Wilayah Paling Rawan dengan 81 Titik

Kurnia | 7 November 2026, 16:29 WIB
Hotspot Sumsel Kembali Melonjak, OKI Jadi Wilayah Paling Rawan dengan 81 Titik
Karhutla Foto: Kemenhut

AKURAT.CO SUMSEL Jumlah titik panas atau hotspot di Sumatera Selatan kembali meningkat setelah sempat menurun dalam beberapa hari terakhir.

Pada 6 November 2026, pemantauan mencatat sebanyak 202 titik panas tersebar di sejumlah kabupaten.

Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak. Kondisi ini menunjukkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih perlu diwaspadai, terutama karena curah hujan belum merata di seluruh wilayah Sumsel.

Kabid Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, mengatakan dari total 202 titik panas yang terpantau, sebanyak 44 titik berada di lahan gambut. Sementara 158 titik lainnya terdeteksi di kawasan lahan mineral.

"Hotspot Sumsel melonjak kembali menjadi 202 titik setelah dalam beberapa hari terakhir mengalami penurunan. Dari jumlah itu, 44 titik di antaranya terpantau di lahan gambut dan sisanya 158 titik di lahan mineral," ujar Sudirman, Sabtu (7/11/2026).

Berdasarkan sebarannya, OKI menempati urutan pertama dengan 81 titik panas. Rinciannya, 36 titik berada di lahan gambut dan 45 titik lainnya di lahan mineral.

Baca Juga: Dituduh Pelakor Saat Live TikTok, Perempuan di Palembang Lapor Polisi

Setelah OKI, Muara Enim mencatat 20 titik panas, disusul Ogan Komering Ulu (OKU) sebanyak 16 titik dan Lahat 14 titik. Kemudian Musi Banyuasin (Muba) dengan 13 titik serta OKU Timur sebanyak 11 titik.

Sudirman menyebut, sepanjang November 2026 jumlah hotspot yang terpantau di Sumsel telah mencapai 681 titik. Meski kembali mengalami kenaikan harian, angka tersebut dinilai masih lebih baik dibandingkan kondisi pada awal Oktober lalu.

Menurutnya, belum meratanya hujan menjadi salah satu faktor yang membuat titik panas kembali meningkat. Wilayah yang sebelumnya sempat diguyur hujan berpotensi mengalami penurunan kelembapan ketika tidak mendapat hujan dalam beberapa waktu.

"Belum meratanya curah hujan membuat potensi munculnya titik panas semakin meningkat, terutama di wilayah yang memiliki lahan rawan kebakaran," jelasnya.

BPBD Sumsel pun mengingatkan masyarakat agar tidak lengah menghadapi potensi karhutla. Warga diminta tidak membakar lahan saat membuka maupun membersihkan area perkebunan dan pertanian.

Pemprov Sumsel sendiri masih menetapkan status siaga bencana asap akibat karhutla hingga 30 November 2026. Status tersebut akan dievaluasi dengan mempertimbangkan perkembangan musim hujan di wilayah Sumsel.

Sementara untuk status siaga bencana banjir dan tanah longsor, BPBD Sumsel masih menunggu informasi lebih lanjut dari BMKG.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia