Sumsel

Petugas Karhutla Sumsel Harus Bergantian Tiap 10-15 Hari, Air Jadi Kendala Pemadaman

Kurnia | 17 September 2026, 21:00 WIB
Petugas Karhutla Sumsel Harus Bergantian Tiap 10-15 Hari, Air Jadi Kendala Pemadaman
Ilustrasi - Kementerian Kehutanan

AKURAT.CO SUMSEL Perjuangan memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan (Sumsel) masih berlangsung.

Di tengah tingginya aktivitas titik panas, petugas pemadam harus menjaga stamina agar tetap mampu bekerja di lapangan.

Manggala Agni menerapkan sistem pergantian atau rolling personel setiap 10 hingga 15 hari kerja. Strategi ini dilakukan untuk menjaga kondisi fisik petugas yang terus berjibaku menangani karhutla di sejumlah wilayah.

Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera Kementerian Kehutanan, Ferdian Krisnanto, mengatakan pergantian personel menjadi bagian dari strategi menjaga kesiapan petugas.

“Untuk petugas yang memadamkan api kami jalankan juga strategi rolling setiap 10-15 hari kerja, supaya fresh,” kata Ferdian saat dikonfirmasi, Kamis (17/9/2026).

Menurut dia, pemadaman masih dilakukan oleh satuan tugas darat dan udara. Kondisi di lapangan pun berubah-ubah, dengan sejumlah daerah mengalami penurunan titik panas, sementara wilayah lain justru menunjukkan peningkatan.

OKI dan Muara Enim menjadi dua daerah yang masih mendapat perhatian karena aktivitas titik panas di wilayah tersebut meningkat.

Baca Juga: Tanggapi Asap Karhutla Sumsel Menyebar, Herman Deru: Bagaimana Menuduhnya?

Ferdian mengatakan kondisi kesehatan personel juga dipantau selama operasi berlangsung. Pemeriksaan kesehatan dilakukan secara berkala dengan melibatkan tim kesehatan dari Kementerian Kehutanan dan sejumlah puskesmas.

Dukungan pemeriksaan kesehatan juga diberikan oleh tim kesehatan Pertamina Patra Niaga Sumbagsel.

Langkah tersebut dinilai penting karena petugas harus bekerja dalam kondisi lapangan yang tidak mudah, terutama ketika menghadapi kebakaran di kawasan gambut.

“Yang perlu dilakukan ada dua hal, selesaikan yang saat ini terbakar terutama yang gambut dan sumber-sumber asap. Kedua, jangan ada lagi lokasi-lokasi baru,” ujarnya.

Artinya, penanganan karhutla saat ini tidak hanya berfokus pada api yang sudah muncul. Tim juga dituntut mencegah agar titik api baru tidak bermunculan.

Di tengah pengerahan personel dan peralatan, pemadaman karhutla masih menghadapi kendala teknis. Salah satunya adalah ketersediaan air di lokasi kebakaran.

“Faktor pembatas lapangannya adalah ketersediaan air,” kata Ferdian.

Kondisi tersebut membuat strategi pemadaman harus disesuaikan dengan karakteristik lokasi. Satgas darat tetap melakukan pemadaman langsung, sementara dukungan udara digunakan untuk menjangkau kawasan yang sulit diakses melalui jalur darat.

Patroli di wilayah rawan karhutla juga terus diperkuat untuk mendeteksi potensi kebakaran sedini mungkin.

Baca Juga: BNNP Sumsel Musnahkan 45,5 Kg Sabu dan 9.439 Butir Ekstasi dari Jaringan Malaysia-Palembang-PALI

Harapan untuk membantu meredakan karhutla juga datang dari perubahan cuaca. Berdasarkan prediksi BMKG, sejumlah wilayah Sumsel berpotensi mengalami hujan pada 19-22 September 2026.

Namun, hujan yang diperkirakan turun masih memiliki intensitas relatif kecil sehingga belum menjadi satu-satunya tumpuan dalam penanganan karhutla.

Selain itu, Satgas Karhutla Sumsel juga akan melaksanakan operasi modifikasi cuaca (OMC) sebagai salah satu upaya untuk mendukung penanganan kebakaran.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia