Hujan Redam Ancaman Karhutla di Sumsel, Hotspot Nihil dan Titik Kebakaran Turun Drastis

AKURAT.CO SUMSEL Hujan yang mengguyur sejumlah wilayah Sumatera Selatan (Sumsel) sepanjang Rabu (22/7/2026) berdampak signifikan terhadap penurunan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel mencatat tidak ada lagi titik panas (hotspot) yang terpantau berdasarkan data terbaru.
Mengacu pada data Sipongi Kementerian Kehutanan yang diperbarui pada Kamis (23/7/2026) pukul 05.00 WIB, jumlah hotspot di Sumsel tercatat nol.
Meski demikian, hasil patroli darat masih menemukan lima titik kejadian karhutla yang tersebar di tiga kabupaten.
Rinciannya, tiga titik berada di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), satu titik di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), dan satu titik lainnya di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur.
Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, mengatakan hujan dengan intensitas ringan hingga sedang telah meningkatkan kelembapan tanah sehingga risiko munculnya titik panas maupun kebakaran lahan menurun.
"Lahan menjadi basah sehingga potensi munculnya titik panas maupun karhutla menurun. Bahan bakaran seperti semak, ilalang, dedaunan kering, dan ranting juga menjadi lebih sulit terbakar," ujarnya.
Ia menjelaskan, hujan juga membantu menambah cadangan air di kanal, embung, dan lahan gambut. Kondisi tersebut dinilai mampu memperlambat proses pengeringan lahan apabila dalam beberapa hari ke depan tidak terjadi hujan.
Baca Juga: 10 Hari OMC di Sumsel, Ribuan Kilogram Garam Disebar untuk Basahi Gambut
Meski situasi membaik, BPBD Sumsel tetap mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara dibakar. Pasalnya, musim kemarau masih berlangsung sehingga potensi karhutla dapat kembali meningkat jika cuaca kembali panas.
"Walaupun kondisi saat ini cukup baik karena hujan, kami tetap mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara dibakar. Potensi karhutla masih dapat muncul kembali apabila cuaca kembali panas dan lahan mulai mengering," katanya.
Sementara itu, Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Siswanto, menjelaskan hujan yang terjadi dipengaruhi oleh aktifnya fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) di wilayah Sumsel.
Menurutnya, kondisi tersebut didukung suhu muka laut yang hangat di perairan sekitar Sumsel sehingga meningkatkan penguapan dan pasokan uap air ke atmosfer.
Selain itu, kelembapan udara yang tinggi pada lapisan bawah hingga menengah serta kondisi atmosfer yang cukup labil turut mendukung terbentuknya awan konvektif yang menghasilkan hujan dengan intensitas ringan hingga sedang.
Di sisi lain, pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) juga turut membantu meningkatkan peluang terjadinya hujan. Melalui penyemaian pada awan yang memenuhi kriteria, proses pembentukan butir air menjadi lebih optimal sehingga distribusi hujan di wilayah sasaran dapat meningkat.
Kombinasi antara kondisi atmosfer yang mendukung dan pelaksanaan OMC dinilai berperan dalam menekan potensi karhutla di Sumatera Selatan dalam beberapa hari terakhir.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 15 Ramalan Zodiak Hari Ini 21 Oktober 2026, Ada Peluang Baru hingga Urusan Asmara
- 25 Ramalan Zodiak Hari Ini Selasa 20 Oktober 2026: Cinta, Karier, dan Keuangan
- 3Kumpulan Link Twibbon Hari Santri Lengkap dengan Cara Membuatnya
- 4Update Harga Emas Perhiasan Palembang Kamis 22 Oktober 2026
- 5Bergerak Naik, Cek Harga Emas Perhiasan Palembang Rabu 21 Oktober 2026
- 6Ramalan Zodiak Scorpio Hari Ini 22 Oktober 2026: Karier, Cinta, dan Keuangan
- 7Tarif Listrik Terbaru Oktober 2026, Berlaku Golongan Subsidi dan Non Subsidi
- 8Pencairan Bansos Tahap 4 Oktober 2026 Berakhir Minggu Depan, Cek Penerima PKH BPNT di Sini
- 9Lindungi Warga dari Asap Karhutla, Puskesmas di Sumsel Diminta Buka 24 Jam
- 105.303 Jemaah Haji Debarkasi Palembang Sudah Kembali, Empat Kloter Masih Ditunggu








