Sumsel

Kasus Influenza Naik di Sumsel, Pakar: Daya Tahan Tubuh Lemah, Bukan Virus Ganas

Maman Suparman | 28 Oktober 2025, 20:00 WIB
Kasus Influenza Naik di Sumsel, Pakar: Daya Tahan Tubuh Lemah, Bukan Virus Ganas

AKURAT.CO SUMSEL Kasus influenza atau flu dilaporkan meningkat di sejumlah daerah di Sumatera Selatan (Sumsel) dalam beberapa pekan terakhir.

Namun masyarakat diimbau untuk tetap tenang, karena lonjakan ini bukan disebabkan oleh varian baru virus corona, melainkan virus influenza musiman yang umum menyerang saat masa pancaroba.

Hal ini disampaikan Ahli Mikrobiologi Universitas Sriwijaya, Prof. Dr. dr. H. Yuwono, M. Biomed., yang menegaskan bahwa fenomena tersebut adalah siklus alami flu yang kerap muncul di masa peralihan musim.

“Sekarang ini memang banyak masyarakat terserang influenza. Tapi ini bukan corona, bukan virus baru. Influenza ya virus influenza, berbeda dengan virus corona,” ujar Prof Yuwono, Selasa (28/10/2025).

Menurutnya, peningkatan kasus tahun ini terjadi lebih cepat dari biasanya. “Biasanya puncaknya itu akhir Oktober atau awal November, tapi sekarang sudah mulai naik sejak awal Oktober. Mungkin yang beredar tipe H3N2 atau varian influenza lainnya,” jelasnya.

Fenomena serupa, kata Yuwono, juga tengah dialami beberapa negara di Asia seperti Jepang, Singapura, dan Malaysia, yang melaporkan peningkatan kasus influenza sejak awal musim gugur.

Baca Juga: Mobil Klasik Daihatsu Taft GT Milik Owner Cuci Mobil Digelapkan Bos Sate Madura

Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan perubahan iklim global dan kestabilan lingkungan yang memengaruhi pola penyebaran virus.

“Indonesia memang tidak punya empat musim, tapi masa pancaroba ini membuat daya tahan tubuh masyarakat menurun. Ada wilayah yang kering ekstrem, ada juga yang diguyur hujan. Kondisi itu memudahkan virus menular,” paparnya.

Meski demikian, Yuwono memastikan bahwa strain influenza yang beredar di Indonesia saat ini tergolong ringan dan tidak berpotensi menyebabkan wabah besar seperti Covid-19.

“Yang beredar di Indonesia bukan galur yang ganas. Masalah utamanya ada pada daya tahan tubuh, terutama bagi masyarakat dengan gangguan gizi, diabetes, atau penyakit metabolik lain,” tambahnya.

Untuk mencegah penularan lebih luas, Prof Yuwono mengingatkan pentingnya dua hal mendasar: menjaga kebersihan pribadi dan sanitasi lingkungan.

“Yang penting itu dua, personal hygiene dan sanitasi. Rumah tidak harus mewah, tapi harus bersih. Cuci tangan, mandi teratur, bersihkan kuku dan pakaian. Itu sudah bagian dari pencegahan,” tegasnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
K
Editor
Kurnia