Banjir Dahsyat Sumatera Jadi Sorotan, BMKG, Pakar UGM hingga WALHI Ungkap Penyebabnya

AKURAT. CO SUMSEL - Banjir dahsyat yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatera masih menjadi perhatian publik.
Bukan hanya dampak, penyebab banjir dasyat Sumatera juga turut disorot berbagai kalangan dengan pandangan berbeda-beda.
Berikut adalah penyebab banjir Sumatera menurut BMKG, pakar hingga WALHI.
BMKG: Curah Hujan Bulanan Jatuh dalam Satu Hari
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani mengungkap penyebab bencana banjir bandang hingga longsor di tiga provinsi Sumatera.
Faktor utama penyebab derasnya hujan pada 25-27 November 2025 lantaran kemunculan fenomena siklon tropis senyar di sekitar Aceh, Sumatera Utara, hingga Sumatera Barat.
Baca Juga: Pelaku Penikaman Sopir Truk di Macan Lindungan Sisa Dua Orang, Polisi Beri Peringatan Keras
Menurut Faisal, curah hujan pada tanggal tersebut sangat ekstrem.
Bahkan, mencakup volume curah hujan dalam satu bulan.
Selain itu, tanah di wilayah setempat tidak mampu menadah tumpahan air hujan ekstrem.
WALHI: Banjir Sumatera Disebabkan Kerusakan Hutan
Berbeda dengan BMKG, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumatra Utara menilai banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah beberapa waktu belakangan bukan semata-mata akibat cuaca ekstrem.
Melainkan dampak kerusakan hutan yang masif dan alih fungsi lahan. Walhi mencatat, dalam 10 tahun terakhir, 2 ribu hektare hutan di Sumut rusak.
Walhi menyebut, keputusan pemerintah pada 2014 terkait perubahan status kawasan hutan membuka pintu bagi perusahan untuk masuk dan merusak ekosistem di Bukit Batang Toru.
Pakar UGM: Kerusakan Hutan Jadi Akar Banjir Sumatera
Senada dengan Walhi, Peneliti Hidrologi Hutan dan Konservasi DAS UGM, Hatma Suryatmojo, menegaskan bahwa banjir dahsyat yang melanda Sumatera bukanlah kejadian tunggal.
Baca Juga: Tangis Pilu Gubernur Aceh Sebut Banjir Bak Tsunami ke 2: Beberapa Kampung Hilang Entah Kemana
Melainkan pola berulang yang semakin sering terjadi dalam dua dekade terakhir.
Menurut Hatma, hujan ekstrem akibat dinamika atmosfer seperti Siklon Tropis Senyar ikut memperparah kondisi akhir November lalu.
Namun, ia menekankan bahwa rapuhnya hutan hulu membuat air hujan tak lagi mampu ditahan secara alami.
Baca Juga: Produksi Naik 700.000 Ton, Sumsel Minta Kewenangan Ekspor Mandiri untuk Dukung Tanjung Carat
Hatma menjelaskan, hutan itu ibarat spons raksasa yang menahan air, ketika fungsinya hilang, limpasan permukaan meningkat drastis.
Saat hutan rusak atau gundul, siklus hidrologi pun terputus dan air hujan langsung mengalir deras ke hilir.
Di titik itulah banjir bandang tinggal menunggu momentum, apalagi jika ditambah terjadi longsor yang membendung sungai. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1BMKG Prediksi Sumsel Akan Dilanda Hujan Besok, Palembang Berpotensi Sore dan Malam
- 2Siap-siap, Kemensos dan PT Pos Siapkan Skema Baru Penyaluran Bansos
- 3Avengers Endgame: Encore Resmi Tayang di Bioskop, Simak Perbedaannya dengan Versi 2019
- 4BMKG Prediksi 15 Daerah di Sumsel Masih Dilanda Hujan Besok Rabu 23 September 2026
- 5HP Realme 16 Pro Edisi Harry Potter Rilis di Indonesia, Cek Spesifikasi dan Harganya
- 6Ramalan Zodiak Cancer Hari Ini 23 September 2026: Jangan Terburu-buru Ambil Keputusan
- 7Cek Harga Emas Perhiasan di Palembang Selasa 22 September 2026, Naik atau Turun?
- 8Penyaluran Bansos Tahap 3 September 2026 Segera Berakhir, Cek Status Pencairanmu Segera
- 9Lindungi Warga dari Asap Karhutla, Puskesmas di Sumsel Diminta Buka 24 Jam
- 105.303 Jemaah Haji Debarkasi Palembang Sudah Kembali, Empat Kloter Masih Ditunggu








