Sumsel

Karhutla Tak Kunjung Berakhir, 4 Daerah di Sumsel Kini Masuk Kategori Udara Berbahaya

Septiyanti Dwi Cahyani | 24 Oktober 2026, 08:00 WIB
Karhutla Tak Kunjung Berakhir, 4 Daerah di Sumsel Kini Masuk Kategori Udara Berbahaya
Petugas dan relawan yang membantu penanganan karhutla berangkat dengan harapan dapat menyelamatkan sesama dan kembali kepada keluarganya. - Foto: Kemenhut

AKURAT. CO SUMSEL - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi salah satu masalah di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel).

Dampak terjadinya karhutla antara lain kualitas udara yang semakin memburuk hingga ancaman penyakit infeksi saluran pernapasan (ISPA) yang semakin meluas.

Di Sumsel, setidaknya ada 4 wilayah yang kini masuk kategori udara berbahaya. Keempat wilayah tersebut antara lain Palembang, Prabumulih, Pali dan juga Ogan Ilir.

Baca Juga: Sumsel United Bidik Poin Penuh di Kandang Adhyaksa Bekasi City

Kondisi ini juga tidak terlepas dari jumlah titik panas atau hotspot di Sumsel yang masih terus bermunculan.

Kabid Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, mengatakan bahwa berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Sumsel, terpantau sebanyak 1.016 titik panas di wilayah Sumsel pada Jumat (23/10/2026).

Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) menjadi daerah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 335 titik. Disusul Kabupaten Banyuasin sebanyak 228 titik dan Musi Banyuasin sebanyak 144 titik.

Baca Juga: PKK Palembang Perkuat Peran Dasa Wisma dan Pendampingan Kesehatan Jiwa

Selain tiga daerah tersebut, hotspot juga terpantau di OKU Timur sebanyak 68 titik, Muara Enim 63 titik, Musi Rawas Utara 60 titik, Musi Rawas 47 titik, Ogan Ilir 18 titik, Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) 13 titik, OKU Selatan 12 titik, Empat Lawang 11 titik, Lahat delapan titik, Ogan Komering Ulu delapan titik, dan Kota Prabumulih satu titik.

Secara kumulatif, jumlah hotspot yang terpantau sejak 1 Januari hingga 22 Oktober 2026 mencapai 116.307 titik.

Sementara itu, pergerakan hotspot di Sumsel dalam tujuh hari terakhir menunjukkan tren yang fluktuatif.

Baca Juga: Seluruh Sumsel Berpotensi Diguyur Hujan Besok, Sebagian Disertai Petir

Pada 16 Oktober 2026, jumlah hotspot tercatat sebanyak 2.559 titik, kemudian turun menjadi 1.122 titik pada 17 Oktober.

Pada 18 Oktober, jumlahnya kembali meningkat menjadi 1.560 titik.

Sehari berikutnya turun menjadi 753 titik dan naik menjadi 947 titik pada 20 Oktober.

Baca Juga: Gagal Ganti Rugi Rp5 Juta, Pria Diduga Bobol Konter HP di Palembang Diserahkan ke Polisi

Lonjakan kembali terjadi pada 21 Oktober dengan 2.524 titik.

Sementara pada 22 Oktober, jumlah hotspot tercatat sebanyak 2.332 titik.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meskipun jumlah hotspot sempat menurun dalam beberapa hari, potensi kebakaran di sejumlah wilayah Sumsel masih perlu diwaspadai.

Baca Juga: 10 Daerah di Sumsel Disebut Masuk Penerima Banpres Karhutla Tahap Kedua

Di tengah fluktuasi hotspot, kualitas udara di Kota Palembang masih menjadi perhatian.

Berdasarkan data ISPU PM2,5 yang tercantum dalam laporan BPBD Sumsel pada Jumat (23/10/2026) pukul 06.00 WIB, indeks kualitas udara Palembang mencapai angka 684 atau masuk kategori berbahaya.

Selain Palembang, sejumlah daerah lain di Sumsel juga mencatat kualitas udara yang perlu diwaspadai.

Baca Juga: Ratusan Warga Saksikan Penggerebekan Diduga Sarang Narkoba di Lawang Kidul Palembang

PALI mencatat nilai ISPU 536, Prabumulih 380, dan Ogan Ilir 307.

Ketiganya masuk kategori berbahaya. Sementara itu, Musi Rawas mencatat nilai 292 atau kategori sangat tidak sehat.

Musi Banyuasin berada pada angka 160, Lahat 135, dan Muara Enim 90.

Baca Juga: Kekeringan Hambat Pemadaman Karhutla di Sumsel, Satgas Darat Kesulitan Cari Air

Kondisi kualitas udara tersebut menjadi perhatian karena paparan polutan, terutama partikel halus PM2,5 dapat berdampak terhadap kesehatan, khususnya pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan.

Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kabut asap menebal.

Warga yang harus beraktivitas di luar ruangan juga disarankan menggunakan masker untuk membantu mengurangi paparan partikel halus. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.