Sumsel

Kekeringan Hambat Pemadaman Karhutla di Sumsel, Satgas Darat Kesulitan Cari Air

Kurnia | 23 Oktober 2026, 17:33 WIB
Kekeringan Hambat Pemadaman Karhutla di Sumsel, Satgas Darat Kesulitan Cari Air
karhutla. - Foto: Kemenhut

AKURAT.CO SUMSEL – Kekeringan yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra Selatan (Sumsel) menghambat upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Tim Satuan Tugas (Satgas) Darat harus mencari sumber air ke lokasi yang lebih jauh karena parit dan embung mulai mengering.

Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, mengatakan ketersediaan air di sejumlah titik kebakaran semakin terbatas. Bahkan, sumber air yang masih tersisa kerap bercampur lumpur sehingga tidak bisa langsung digunakan untuk pemadaman.

“Rata-rata air sudah kering, parit-parit, embung, dan lain-lain,” kata Ferdian, Jumat (23/10/2026).

Menurutnya, tim juga menghadapi kesulitan ketika menemukan sumber air yang kondisinya sudah berlumpur. Petugas perlu membersihkan atau mengeruk lumpur terlebih dahulu agar air dapat dimanfaatkan untuk mendukung operasi pemadaman.

“Mulai tekor berlumpur airnya, perlu dikeduk dulu lumpurnya,” ujarnya.

Baca Juga: Dua Hari Dicari, Lansia yang Hilang di Sungai Musi Ditemukan Meninggal 2 Km dari Jembatan Musi IV

Keterbatasan air menjadi kendala utama dalam penanganan karhutla, terutama di kawasan gambut yang terbakar. Kondisi tersebut antara lain terjadi di Menang Raya, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), serta Karang Agung, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba).

Di Menang Raya, tim Manggala Agni terpaksa memanfaatkan air yang masih tersisa di bekas galian proyek pembangunan Tol Terbanggi Besar-Pematang Panggang-Kayuagung (Terpeka).

Namun, persediaan air di lokasi itu sangat terbatas dan cepat habis, sementara api belum sepenuhnya berhasil dipadamkan.

“Kita terpaksa pakai metode pemadaman manual dengan handtools,” ujar Ferdian.

Kendala di darat turut memengaruhi upaya pemadaman melalui udara. Helikopter water bombing tidak dapat beroperasi ketika jarak pandang terlalu rendah akibat kabut asap.

Menurut Ferdian, keputusan tersebut harus mengikuti standar operasional prosedur (SOP) keselamatan penerbangan. Karena itu, penerbangan helikopter untuk menjatuhkan air tidak bisa dipaksakan ketika kondisi jarak pandang belum memenuhi persyaratan.

“Kalau visibility rendah, heli waterbombing tidak bisa terbang. Karena itu, netizen juga perlu diedukasi juga, SOP keselamatan kerja perlu ditaati,” katanya.

Kondisi tersebut membuat penanganan karhutla di sejumlah wilayah Sumsel harus menghadapi tantangan berlapis, mulai dari terbatasnya sumber air hingga kendala jarak pandang yang menghambat operasi pemadaman udara.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia