Di Hadapan Menko Polkam, Ratu Dewa Ungkap 406 Kejadian Karhutla di Palembang

AKURAT.CO SUMSEL Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Jenderal TNI (Purn) Djamari Chaniago meninjau penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Palembang, Jumat (18/9/2026).
Djamari didampingi Wali Kota Palembang Ratu Dewa saat mengunjungi Posko Karhutla di Kantor Kecamatan Kertapati, Jalan Sriwijaya Raya KM 14.
Kunjungan tersebut turut dihadiri Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru dan jajaran Satgas Karhutla Sumsel.
Peninjauan dilakukan untuk memperkuat koordinasi penanganan karhutla, termasuk menghadapi potensi kebakaran baru, dampak kekeringan hingga pencemaran udara yang dirasakan masyarakat Palembang.
Dalam arahannya, Djamari meminta penanganan karhutla dilakukan secara terukur dengan memusatkan personel dan peralatan di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.
Pemetaan titik rawan dan prediksi lokasi kemunculan api dinilai penting agar sumber daya dapat dikerahkan secara cepat dan tepat.
Kondisi ini menjadi perhatian karena kebakaran di wilayah sekitar Palembang, terutama Kabupaten Ogan Ilir, berpotensi memengaruhi kualitas udara di Kota Palembang.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan sejumlah wilayah di Indonesia masih menghadapi tingginya titik panas, di antaranya Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, Riau dan Jambi.
Meski tren titik panas di Sumsel menunjukkan penurunan, kewaspadaan tetap diperlukan karena titik panas masih berpotensi berkembang menjadi kebakaran.
Penanganan dilakukan dengan menggabungkan kekuatan darat, operasi water bombing, pemetaan titik panas dan patroli. Upaya tersebut tidak hanya ditujukan untuk memadamkan api, tetapi juga mencegah kebakaran meluas.
Baca Juga: Petugas Karhutla Sumsel Harus Bergantian Tiap 10-15 Hari, Air Jadi Kendala Pemadaman
Baca Juga: Petugas Karhutla Sumsel Harus Bergantian Tiap 10-15 Hari, Air Jadi Kendala Pemadaman
Ratu Dewa memaparkan, hingga 17 September 2026 tercatat 406 kejadian kebakaran lahan di Kota Palembang. Total luas lahan yang terdampak mencapai sekitar 254,23 hektare.
Kertapati menjadi kecamatan dengan kejadian terbanyak, yakni 64 kejadian. Kemudian Gandus 60 kejadian, Alang-Alang Lebar 56 kejadian, Ilir Barat I 50 kejadian dan Sukarami 49 kejadian.
Untuk tingkat kelurahan, Gandus mencatat 39 kejadian, Bukit Baru 30 kejadian dan Sukamulya 28 kejadian.
Sejumlah lokasi juga mengalami kebakaran secara berulang. Jalan Tanjung Barangan, Kecamatan Ilir Barat I, tercatat mengalami 14 kejadian.
Selanjutnya Jalan Talang Kepuh, Kecamatan Gandus, sebanyak 12 kejadian dan Jalan Mayjend Satibi Darwis sebanyak tujuh kejadian.
Data periode 1 Agustus hingga 17 September 2026 juga menunjukkan beberapa hari dengan kejadian kebakaran lahan mencapai 10 hingga 15 kasus per hari.
Selain karhutla, Pemkot Palembang mencatat dampak kekeringan di sejumlah wilayah.
Kekurangan air untuk kebutuhan rumah tangga terjadi di Kelurahan Sukajaya, Kecamatan Sukarami, yang berdampak terhadap 720 kepala keluarga.
Kondisi serupa tercatat di Kelurahan Karya Mulya, Kecamatan Sematang Borang, sebanyak 58 kepala keluarga dan Kelurahan Silaberanti, Kecamatan Jakabaring, sebanyak empat kepala keluarga.
Kekeringan juga berdampak pada lahan pertanian. Di Kelurahan Pulokerto, Kecamatan Gandus, lahan dan sawah yang terdampak mencapai sekitar 407 hektare.
Sementara di Kelurahan Bukit Baru dan Demang Lebar Daun, Kecamatan Ilir Barat I, kekeringan berdampak pada lahan sekitar 22 hektare.
Di Kecamatan Kertapati, kekeringan tercatat berdampak pada lahan di Kelurahan Karya Jaya, Kemasrindo dan Keramasan dengan luas sekitar 21,5 hektare.
Meski demikian, ketersediaan air bersih di Palembang masih dinyatakan aman. Perumda Tirta Musi tidak mengalami penurunan produksi maupun distribusi.
Pada Mei-Agustus 2026, ketersediaan air baku meningkat 6,3 persen, produksi air bersih naik 5 persen dan distribusi meningkat 5,1 persen.
Untuk membantu wilayah terdampak, Perumda Tirta Musi menyiapkan distribusi air menggunakan mobil tangki. Perusahaan juga menyediakan titik hidran dan fasilitas pengisian air bagi mobil tangki di IPA dan booster.
Kualitas udara menjadi persoalan lain yang muncul di tengah kondisi karhutla.
Berdasarkan pemantauan 17-18 September 2026, ISPU Kota Palembang dalam 24 jam terakhir sempat berada di atas 300. Pada Jumat (18/9/2026) pukul 04.00 WIB, ISPU tercatat 302 atau berada dalam kategori berbahaya.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan akibat paparan asap dan partikel pencemar udara.
Hingga 17 September 2026, kasus harian Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Palembang mencapai 752 kasus. Jumlah ini naik 46 kasus dibandingkan 16 September yang tercatat 706 kasus.
Kasus ISPA tertinggi berada di Kecamatan Sukarami dengan 91 kasus. Berdasarkan kelompok usia, kasus terbanyak berasal dari kelompok 19-59 tahun sebanyak 320 kasus.
Pemkot Palembang telah menyiapkan 61 posko kesehatan yang tersebar di 42 puskesmas. Sebanyak 55.400 masker juga telah didistribusikan melalui puskesmas.
Baca Juga: Rupiah Diprediksi Fluktuatif Cenderung Melemah di Kisaran Rp17.750–Rp17.790
Dampak asap juga menjadi pertimbangan dalam pelaksanaan kegiatan pendidikan.
Pemkot Palembang menerbitkan Surat Edaran Nomor 63 Tahun 2026 tentang Penyelenggaraan Layanan Pendidikan pada Satuan Pendidikan Kota Palembang sebagai daerah terdampak asap karhutla.
Dalam kebijakan tersebut, pembelajaran dapat dilakukan secara daring, luring maupun kombinasi dengan mempertimbangkan kondisi ISPU.
Apabila ISPU berada di atas 200, kegiatan pembelajaran tatap muka dihentikan dan diganti dengan pembelajaran jarak jauh.
Pemkot Palembang juga memperkuat pengawasan lingkungan melalui program Jaga Kampung yang melibatkan 1.605 personel Satlinmas.
Selain itu, terdapat 327 Siskamling yang terdiri dari 160 Siskamling aktif dan 167 Siskamling tidak aktif.
Posko siaga lapangan juga dioperasikan di 18 kecamatan. Pemantauan dan pelaporan dilakukan selama 24 jam, termasuk patroli di delapan kecamatan rawan serta lokasi yang mengalami kebakaran berulang.
Untuk penanganan kebakaran, Palembang memiliki 10 posko pemadam dengan total 232 personel.
Masyarakat dapat melaporkan kejadian darurat melalui layanan 112 atau Call Center BPBD Kota Palembang di nomor 0821 6447 3403.
Pemkot Palembang juga mengantisipasi potensi kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Penyiraman dilakukan setiap hari dan petugas disiagakan selama 24 jam.
Hingga 17 September 2026, kondisi TPA dilaporkan aman. Sosialisasi larangan pembakaran sampah dan lahan juga terus dilakukan.
Dalam penanganan karhutla, pemerintah masih menghadapi sejumlah kendala, seperti keterbatasan sumber air akibat kekeringan, akses menuju lokasi kebakaran yang sulit serta munculnya kebakaran secara bersamaan di sejumlah wilayah.
Kondisi angin dan lahan yang kering juga dapat mempercepat penyebaran api. Karena itu, respons cepat dan koordinasi antara pemerintah, petugas pemadam, aparat keamanan, relawan dan masyarakat terus diperkuat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Desil 1- 4 Dapat Bansos Apa Saja September 2026? Cek Daftarnya di Sini
- 2Harga BBM Pertamina, Vivo, Shell dan BP Rabu 16 September 2026
- 3PLN Palembang Jadwalkan Pemadaman Listrik Besok Jumat 18 September 2026, Cek Daftar Wilayah Terdampak
- 4Antrean BBM di Palembang Tembus 10 Jam, Herman Deru Soroti Pasokan Pertalite dan Bio Solar
- 510 Daerah di Sumsel Dilanda Hujan Sore Ini, Sebagian Disertai Petir
- 65 Ramalan Zodiak Hari Ini: Ada Peluang Baru hingga Kabar Tak Terduga
- 7Ramai Isu Gempa Megathrust Ancam Indonesia, Apa Saja yang Harus Disiapkan?
- 8Sebagian Sumsel Masih Dilanda Hujan Besok, Cek Wilayah Mana Saja
- 9Lindungi Warga dari Asap Karhutla, Puskesmas di Sumsel Diminta Buka 24 Jam
- 105.303 Jemaah Haji Debarkasi Palembang Sudah Kembali, Empat Kloter Masih Ditunggu









