Sumsel

Harga Gabah di Sumsel Beragam, Pemerintah Targetkan Rp 6.500 per Kg

Maman Suparman | 11 Februari 2025, 18:30 WIB
Harga Gabah di Sumsel Beragam, Pemerintah Targetkan Rp 6.500 per Kg

AKURAT.CO SUMSEL Harga gabah di Sumatera Selatan (Sumsel) bervariasi di tingkat petani, dengan kisaran Rp 5.100 hingga Rp 6.500 per kilogram.

Untuk memastikan stabilitas harga dan kesejahteraan petani, pemerintah menargetkan harga gabah di tingkat petani dapat mencapai Rp 6.500 per kg.

Pj Gubernur Sumsel, Elen Setiadi menegaskan bahwa langkah ini merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden RI Prabowo Subianto agar pemerintah daerah dapat menyerap hasil panen petani secara optimal sehingga harga tetap terjaga.

“Kita harus mengantisipasi penyerapan gabah di tingkat petani. Target kita adalah menyerap hasil panen sesuai dengan potensi produksi padi yang ada agar semuanya dapat terserap dengan harga Rp 6.500 per kg. Pemerintah akan mendukung BULOG dalam proses penyerapan ini,” ujar Elen, Selasa (11/2/2025).

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Sumsel, Bambang Pramono menyampaikan bahwa berdasarkan survei terbaru, harga gabah di tingkat petani bervariasi.

Baca Juga: Sumsel Catat Rekor Investasi Rp 70,92 Triliun, Lebih dari Dua Kali Lipat Target RPJMD

“Pada Januari hingga Februari 2025, harga gabah berkisar antara Rp 5.100 hingga Rp 6.500 per kg. Kami juga mencatat bahwa di Sumsel terdapat 274 penggilingan padi yang berperan penting dalam distribusi beras,” jelasnya.

Lebih lanjut, Bambang juga mengungkapkan bahwa potensi produksi padi (GKG) di Sumsel selama Februari hingga Maret 2025 diperkirakan mencapai 784.206 ton atau setara dengan 450.370 ton beras. BULOG sendiri menargetkan penyerapan 161.000 ton beras pada periode Januari-April 2025.

Pimpinan Wilayah Perum BULOG Sumsel Babel, Elis Nurhayati, menyatakan bahwa BULOG siap membeli gabah dalam bentuk Gabah Kering Panen (GKP) yang kemudian diolah menjadi beras. Namun, ia menekankan pentingnya peningkatan kualitas beras oleh petani.

“Kami berharap petani lebih memperhatikan kualitas hasil panen mereka. Saat ini, masih banyak beras yang mengandung jerami dan kotoran hitam, yang dapat menurunkan nilai jual. Edukasi bagi petani perlu ditingkatkan agar mereka bisa menghasilkan beras berkualitas lebih baik,” ungkap Elis. (Kurnia)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
K
Editor
Kurnia