Sumsel

Kapolda Sumsel Ultimatum Anak Buah: Tak Ada Ruang untuk Preman dan Pungli, Aparat Terlibat Siap Dicopot

Maman Suparman | 18 Oktober 2025, 17:15 WIB
Kapolda Sumsel Ultimatum Anak Buah: Tak Ada Ruang untuk Preman dan Pungli, Aparat Terlibat Siap Dicopot

AKURAT.CO SUMSEL Kapolda Sumatera Selatan (Sumsel) Irjen Pol Andi Rian R. Djajadi mengeluarkan ultimatum keras kepada seluruh jajarannya.

Ia menegaskan tidak akan mentolerir praktik premanisme dan pungutan liar (pungli) yang masih marak di wilayah hukum Polda Sumsel, termasuk jika pelakunya berasal dari internal kepolisian sendiri.

Instruksi ini bukan sekadar retorika. Kapolda memerintahkan agar seluruh Kapolres hingga Kapolsek turun langsung memimpin operasi lapangan di titik-titik rawan seperti pelabuhan, terminal, pasar, hingga area publik dan objek vital yang kerap menjadi ladang empuk bagi aksi pemerasan dan pungli.

“Tidak ada tempat bagi preman maupun oknum aparat yang bermain di wilayah ini. Siapapun yang terlibat, akan saya tindak tegas,” tegas Irjen Andi Rian, Sabtu (18/10/2025).

Menurutnya, aksi premanisme dan pungli bukan hanya melukai rasa aman masyarakat, tetapi juga menciptakan citra buruk bagi institusi Polri dan menghambat pertumbuhan ekonomi daerah.

“Ini penyakit sosial yang harus kita bersihkan bersama. Masyarakat jangan takut melapor, identitas pelapor akan kami lindungi,” ujarnya menambahkan.

Baca Juga: Harga Telur Ayam di Palembang Masih Tinggi, Cuaca Panas dan Program MBG Jadi Pemicu

Lebih jauh, jenderal bintang dua itu juga menyoroti potensi keterlibatan oknum aparat yang menutup mata terhadap praktik tersebut. Ia menegaskan bahwa pembiaran sama saja dengan pelanggaran berat.

“Kalau ada anggota yang tahu tapi diam, itu sama saja ikut terlibat. Sanksinya bisa berupa pencopotan jabatan bahkan proses pidana,” tegasnya.

Instruksi Kapolda ini disinyalir sebagai respons atas meningkatnya laporan masyarakat mengenai aksi pemalakan dan pungli di sejumlah wilayah strategis.

Beberapa di antaranya bahkan dilakukan secara terang-terangan oleh kelompok tertentu yang mengaku ‘mengamankan wilayah’.

“Saya ingin hasil konkret, bukan sekadar laporan administratif. Masyarakat harus benar-benar merasakan perubahan di lapangan,” tegas Andi Rian. (Deny Wahyudi)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
K
Editor
Kurnia