Sumsel

Sejarah Songket Bunga Limar Cogan, Penghuni Baru Museum Kota Palembang SMB II

Septiyanti Dwi Cahyani | 10 Februari 2026, 08:00 WIB
Sejarah Songket Bunga Limar Cogan, Penghuni Baru Museum Kota Palembang SMB II

AKURAT. CO SUMSEL - Kain Songket Bunga Limar Cogan yang berusia 100 tahun kini sudah bisa disaksikan di Museum Kota Palembang Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II.

Sebelumnya, kain songket ini dibawa oleh seorang warga Australia bernama Mr Pete Muskens.

Ia mengaku mendapat kain tersebut dari sang ayah yang berkebangsaan Belanda dan pernah tinggal di Indonesia pada periode 1945 hingga 1951.

Baca Juga: Siap-siap, Pemerintah Bakal Terapkan Regulasi Beli Gas LPG 3 Kg Pakai KTP Tahun Ini

Cerita pengembalian kain tersebut dimulai ketika Pete berkunjung ke Kota Padang, Sumatera Barat pada Mei 2025.

Saat itu, ia melihat kain songket serupa miliknya.

Pete pun mulai mencari tahu tentang kain ia miliki dan akhirnya menemukan informasi bahwa songket tersebut berasal dari Kota Palembang.

Baca Juga: Sinopsis Film AIU EO Macam Betool Aja, Film Romcom Terbaru Dibintangi Oki Rengga hingga Michelle Ziudith

Pete lalu mencari kontak petugas Museum Sultan Mahmud Badaruddin II dan berkomunikasi lewat Zoom, hingga akhirnya Pete memutuskan untuk menyerahkan kain tersebut kepada Pemerintah Kota Palembang pada akhir Oktober 2025 lalu. 

Sejarah Songket Bunga Limar Cogan

Kain ini, diperkirakan ditenun pada masa transisi akhir Kesultanan Palembang pada awal abad ke-20 dan bukan termasuk produk massal.

Baca Juga: Kabar Gembira, Songket 100 Th yang Dikembalikan WN Australia Sudah Hadir di Museum SMB II Palembang

Selain nilai historisnya yang tinggi, kain ini juga memiliki beberapa keistimewaan yang menjadikannya berbeda dengan kain songket lainnya.

Berikut adalah beberapa keistimewaan Songket Bunga Limar Cogan;

1. Berjenis Limar

Kata limar merujuk pada teknik pewarnaan benang dasar (benang lungsi dan pakan) yang dicelup dengan berbagai warna cerah sehingga menghasilkan efek bergaris atau gradasi warna yang kaya sebelum proses menenun dimulai.

Baca Juga: Tiga Tahun Terakhir, Asupan Energi Orang Sumsel Stabil di Atas Standar

Berbeda dengan songket biasa yang benang dasarnya seringkali hanya satu warna solid. Limar menampilkan warna-warni yang menggambarkan kekayaan alam dan kreativitas Palembang.

2. Motif Bunga Cogan

Motif utama pada kain ini adalah Bunga Cogan yang merupakan motif geometris-floral yang teratur.

Baca Juga: Tahun 2025, Penduduk Sumsel Tanpa Ijazah Capai 11,67 Persen

Dalam kosmologi Palembang, bunga seringkali melambangkan keindahan, kesempurnaan, dan alam yang subur.

Motif Cogan sendiri dapat diartikan sebagai simbol keagungan atau mahkota, menguatkan asosiasinya dengan kalangan istana.

3. Menggunakan Benang Emas Kualitas Terbaik

Baca Juga: Ramadan Tiba, Program Makan Bergizi Gratis Diubah Jadi Menu Berbuka hingga Makanan Tahan Lama

Songket ini menggunakan benang emas yang memiliki kandungan emas tertinggi dan kualitas terbaik.

Tingkat kemewahan material ini secara langsung mencerminkan status sosial pemakainya.

Di masa kejayaannya, Songket Limar Bunga Cogan memiliki fungsi khusus yang hanya boleh dikenakan oleh kalangan ningrat, bangsawan tinggi, atau keluarga kerajaan dalam upacara-upacara adat yang sangat penting.

Seperti pernikahan agung atau penobatan.

NBaca Juga: Bocah 13 Tahun di Palembang Kena Bacok Celurit Diduga Saat Tawuran, Ibu Korban Lapor Polisi

Kain ini adalah simbol visual yang tegas memisahkan strata sosial, menjadikannya sebuah masterpiece yang mengandung sejarah kekuasaan dan kemewahan.

Kini, kain berukuran sekitar 80 x 200 cm ini menjadi salah satu artefak yang paling signifikan.

Menghadirkan cerita sejarah langsung menuju kehidupan istana Palembang pada lebih dari seratus tahun yang lalu. (*) 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.