Sumsel

131 Kasus Suspek Campak Ditemukan di Palembang, Cuaca Ekstrem Jadi Pemicu

Maman Suparman | 6 Februari 2026, 21:00 WIB
131 Kasus Suspek Campak Ditemukan di Palembang, Cuaca Ekstrem Jadi Pemicu

AKURAT.CO SUMSEL Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Palembang melaporkan temuan sebanyak 131 kasus suspek campak yang tersebar di wilayah ibu kota Sumatera Selatan.

Cuaca ekstrem dan perubahan iklim yang cepat dituding menjadi faktor utama yang memicu penyebaran penyakit menular ini, terutama di kalangan anak-anak.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Palembang, Yudhi Setiawan, mengungkapkan bahwa penyakit ini sangat mudah menular melalui infeksi saluran pernapasan.

Kondisi lingkungan yang tidak stabil serta menurunnya imunitas tubuh mempercepat proses penularan di tengah masyarakat.

Yudhi menjelaskan, gejala awal campak sering kali menyerupai gangguan pernapasan biasa, sehingga orang tua diminta untuk lebih jeli.

Baca Juga: Dalam Hitungan Hari, 342 Kendaraan Terjaring ETLE Mobile di Jalanan Palembang

Gejala yang perlu diwaspadai meliputi demam tinggi, batuk, pilek, serta mata merah yang kemudian diikuti dengan munculnya ruam kemerahan pada permukaan kulit.

"Perubahan cuaca ekstrem memicu gangguan pernapasan yang mempermudah gejala awal campak muncul. Jika tidak segera ditangani, penyakit ini berisiko menimbulkan komplikasi serius, terutama bagi anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap," ujar Yudhi saat memberikan keterangan, Jumat (6/2/2026).

Pihak Dinkes mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk berperan aktif menjaga kebersihan lingkungan dan kesehatan diri. Yudhi menegaskan bahwa deteksi dini di fasilitas kesehatan adalah kunci agar kasus suspek tidak berkembang menjadi wabah yang lebih besar.

"Kami mengimbau warga untuk segera memeriksakan diri ke puskesmas atau rumah sakit jika menemukan tanda-tanda campak pada anak. Jangan ragu untuk mengikuti program imunisasi yang sudah disediakan pemerintah," tutupnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
K
Editor
Kurnia