Sumsel

Waspada! Ini 5 Modus Hacker Bobol WhatsApp, Jangan Sembarangan Berikan Kode Verifikasi

Kurnia | 5 November 2026, 10:00 WIB
Waspada! Ini 5 Modus Hacker Bobol WhatsApp, Jangan Sembarangan Berikan Kode Verifikasi
Ilustrasi WhatsApp

AKURAT.CO SUMSEL Pengguna WhatsApp perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai modus kejahatan siber yang mengincar akun pribadi.

Pasalnya, aplikasi pesan instan populer ini masih menjadi salah satu sasaran empuk hacker dan penipu untuk mencuri data hingga mengambil alih akun pengguna.

Dengan jumlah pengguna yang mencapai miliaran orang di berbagai negara, WhatsApp menjadi salah satu platform komunikasi yang banyak dimanfaatkan masyarakat. Kondisi tersebut juga dimanfaatkan pelaku kejahatan siber untuk mencari celah keamanan.

Salah satu cara yang sering digunakan adalah mengelabui korban agar memberikan kode verifikasi, membuka tautan berbahaya, hingga memindai kode QR palsu.

Mengutip laporan keamanan siber Bitdefender yang diberitakan detikINET, terdapat lima modus yang umum digunakan peretas untuk mendapatkan akses ke akun WhatsApp.

Baca Juga: Hasil Pemilu Sela Amerika Serikat: Demokrat Menang Telak Kuasai Kongres AS, Bagaimana Nasib Trump?

Berikut lima modus yang perlu diwaspadai beserta cara menghindarinya.

1. Rekayasa Sosial untuk Mencuri Kode Verifikasi

Rekayasa sosial atau social engineering menjadi salah satu cara yang digunakan penipu untuk mengambil alih akun WhatsApp.

Dalam modus ini, pelaku berusaha memanipulasi korban agar bersedia memberikan informasi rahasia, termasuk kode verifikasi yang dikirimkan WhatsApp melalui SMS atau panggilan telepon.

Biasanya, pelaku terlebih dahulu mencoba mendaftarkan nomor telepon korban pada perangkat lain. Setelah itu, kode verifikasi akan dikirimkan ke nomor pemilik akun.

Penipu kemudian menghubungi korban dengan berbagai alasan agar kode tersebut diberikan kepada mereka.

Untuk menghindarinya, jangan pernah membagikan kode verifikasi WhatsApp kepada siapa pun. Termasuk jika permintaan tersebut datang dari orang yang mengaku sebagai teman atau keluarga.

2. Mengambil Alih Akun Lewat Pengalihan Panggilan

Modus berikutnya memanfaatkan fitur pengalihan panggilan atau call forwarding.

Pelaku biasanya mengirimkan pesan, email, atau melakukan panggilan dengan meminta korban menghubungi nomor tertentu menggunakan kode khusus.

Jika korban mengikuti instruksi tersebut, panggilan masuk pada nomor teleponnya berpotensi dialihkan ke nomor milik pelaku.

Kondisi ini kemudian dapat dimanfaatkan untuk menerima kode verifikasi WhatsApp yang dikirimkan melalui panggilan telepon.

Karena itu, pengguna sebaiknya tidak sembarangan mengikuti instruksi dari nomor tidak dikenal, terutama jika diminta memasukkan kode tertentu atau menghubungi nomor yang mencurigakan.

3. Memanfaatkan Kode QR Palsu di WhatsApp Web

Pengguna WhatsApp juga perlu berhati-hati ketika menggunakan layanan WhatsApp Web.

Pasalnya, pelaku kejahatan siber dapat memanfaatkan kode QR palsu untuk menipu korban agar menghubungkan akun WhatsApp mereka ke perangkat milik penyerang.

Modus ini biasanya dilakukan dengan memasang kode QR yang menyerupai halaman masuk WhatsApp Web pada situs tertentu.

Ketika korban memindai kode tersebut melalui fitur perangkat tertaut, pelaku berpotensi mendapatkan akses ke akun WhatsApp korban.

Baca Juga: Tanda Rekening Siap Menerima Bansos PKH, BPNT Cair November 2026

Untuk menghindarinya, pastikan hanya memindai kode QR dari situs resmi WhatsApp Web. Selain itu, periksa daftar perangkat tertaut secara berkala dan keluarkan perangkat yang tidak dikenal.

4. Menyusupkan Spyware ke Ponsel Korban

Spyware merupakan perangkat lunak berbahaya yang dirancang untuk memata-matai aktivitas pengguna tanpa sepengetahuan mereka.

Peretas dapat menyebarkan spyware melalui tautan mencurigakan, aplikasi tidak resmi, maupun lampiran yang dikirim melalui email.

Ketika korban membuka atau mengunduh file berbahaya tersebut, perangkat lunak pengintai berpotensi terpasang di ponsel.

Dampaknya, informasi pribadi dan aktivitas komunikasi korban dapat terancam. Data seperti pesan, foto, video, hingga informasi lainnya berpotensi diakses oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Untuk mencegahnya, hindari mengunduh aplikasi dari sumber tidak resmi. Periksa izin akses aplikasi secara berkala dan segera hapus aplikasi yang tidak dikenal atau mencurigakan.

5. Memanfaatkan Data Pribadi yang Bocor di Dark Web

Modus terakhir berkaitan dengan penyalahgunaan data pribadi yang beredar di internet, termasuk melalui pasar gelap digital atau dark web.

Pelaku dapat memanfaatkan informasi yang bocor, seperti nomor telepon dan data pribadi lainnya, untuk menyusun strategi penipuan yang lebih meyakinkan.

Informasi tersebut bisa digunakan untuk menyamar sebagai orang terdekat korban, mengirim pesan palsu, hingga melakukan upaya pengambilalihan akun.

Bahkan, data pribadi yang diperoleh dapat dimanfaatkan untuk melakukan pemerasan terhadap korban maupun keluarganya.

Untuk mengurangi risiko, pengguna perlu menjaga informasi pribadi agar tidak mudah tersebar. Hindari membagikan data sensitif di ruang publik dan lakukan pemeriksaan keamanan akun secara berkala.

Selain lima modus tersebut, pengguna WhatsApp juga disarankan mengaktifkan fitur verifikasi dua langkah atau two-step verification.

Fitur ini memberikan lapisan perlindungan tambahan karena pengguna harus memasukkan PIN ketika nomor telepon didaftarkan kembali di WhatsApp.

Dengan mengenali berbagai modus tersebut, pengguna diharapkan lebih berhati-hati saat menerima pesan, tautan, maupun permintaan informasi dari pihak yang tidak dikenal.

Baca Juga: Profil Letjen Ariyo Windutomo Plt KSP Pengganti Listyo Sigit

Jangan sampai akun WhatsApp diambil alih hanya karena lengah memberikan kode verifikasi atau mengikuti instruksi mencurigakan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia