Sumsel

Kasus Persekusi di RSUD Sekayu, dr. Tirta: “Dokter Sudah Sesuai SOP, Jangan Jadi Sasaran Amarah”

Maman Suparman | 18 Agustus 2025, 14:37 WIB
Kasus Persekusi di RSUD Sekayu, dr. Tirta: “Dokter Sudah Sesuai SOP, Jangan Jadi Sasaran Amarah”

AKURAT.CO SUMSEL Kasus persekusi terhadap dokter spesialis ginjal di RSUD Sekayu, dr. Syapri Putra Wangsa, oleh keluarga pasien mendapat sorotan luas, termasuk dari dokter dan influencer kesehatan, dr. Tirta.

Ia secara tegas mengecam tindakan tersebut dan menyatakan dukungannya terhadap langkah hukum yang diambil korban.

Menurut dr. Tirta, tindakan kekerasan terhadap tenaga medis, seperti menarik kerah baju hingga menantang berkelahi, adalah hal yang sangat disayangkan.

Ia menyebut bahwa kekecewaan terhadap pelayanan rumah sakit seharusnya tidak dilampiaskan kepada dokter atau perawat, yang telah bekerja sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP).

“Apa yang dilakukan sejawat saya itu sudah benar. Kekecewaan atas pelayanan administrasi di rumah sakit itu bukan urusan dokter,” ungkap dr. Tirta melalui akun media sosial pribadinya, dikutip Senin (18/8/2025).

Baca Juga: Lamborghini Fenomeno Resmi Meluncur, Hanya 29 Unit dengan Tenaga 1.065 HP

Dalam kasus yang terjadi di RSUD Sekayu, diketahui keluarga pasien merasa kecewa karena harus menunggu lama untuk pemeriksaan laboratorium. Namun, dr. Tirta menegaskan bahwa antrean dan proses administrasi adalah wewenang pihak rumah sakit, bukan dokter.

“Soal antrean, pemeriksaan laboratorium itu ada urutannya. Kalau ada teman-teman marah soal antrean itu adalah urusan administrasi yang dilakukan oleh rumah sakit,” jelasnya.

Ia pun meminta keluarga pasien untuk mengendalikan emosi dan tidak menyalurkan kekecewaan dengan cara kekerasan. Pasalnya, tindakan seperti itu tidak akan menyelesaikan masalah, justru berpotensi menjerat pelaku ke ranah hukum.

 Tirta mendukung penuh proses hukum tersebut agar menjadi efek jera bagi pihak lain.

Ia menambahkan bahwa rumah sakit memiliki saluran resmi untuk menyampaikan keluhan, seperti kotak kritik dan saran atau humas, bukan dengan melakukan kekerasan fisik.

“Masa langsung yang dijotosi malah dokter,” pungkasnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
K
Editor
Kurnia