Sumsel

5 Fakta Mengerikan Gunung Slamet yang Harus Diketahui Pendaki

St Shofia Munawaroh | 15 Januari 2026, 08:00 WIB
5 Fakta Mengerikan Gunung Slamet yang Harus Diketahui Pendaki

AKURAT. CO SUMSEL - Gunung Slamet merupakan gunung tertinggi di Provinsi Jawa Tengah.

Ketinggiannya mencapai 3.428 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Baru-baru ini, Gunung Slamet menjadi sorotan publik lantaran kembali menelan korban.

Baca Juga: 5 Gunung Tertinggi di Sumsel Cocok untuk Pendakian, Dempo Bukan Satu-satunya

Syafiq Ridhan Ali Razan (18), seorang pendaki remaja asal Magelang, Jawa Tengah dinyatakan hilang di Gunung Slamet sejak akhir 2025.

Ia baru ditemukan setelah 17 hari pencarian dalam kondisi meninggal dunia.

Insiden ini membuat warganet menyoroti berbagai fakta mengerikan Gunung Slamet yang kerap diabaikan para pendaki.

Baca Juga: Info Pemadaman Listrik Palembang Hari Ini, Sejumlah Sekolah hingga Kantor Pemerintahan Terdampak

Berikut adalah sederet fakta mengerikan mengenai Gunung Slamet yang harus diketahui para pendaki sebelum memutuskan naik ke puncak tertinggi Jawa Tengah. 

1. Medan Curam dan Terjal

Salah satu tantangan utama di Gunung Slamet adalah medannya yang terjal dengan jurang-jurang curam yang seringkali tidak terlihat jelas dengan mata.

Baca Juga: 5 Gunung Tertinggi di Sumsel Cocok untuk Pendakian, Dempo Bukan Satu-satunya

Menurut seorang pegiat lingkungan dan pendaki gunung, Hariawan Agung Wahyudi, Gunung Slamet bagian tengah atau di ketinggian sekitar 2.500 mdpl masih memiliki vegetasi yang sangat baik, sehingga sulit untuk melihat tebing atau jurang yang curam. 

2. Perubahan Cuaca Ekstrem Mendadak

Cuaca di Gunung Slamet dikenal sangat tidak menentu dan bisa berubah drastis dalam waktu singkat.

Baca Juga: Kasus Dugaan Pelecehan Mahasiswi, UMP Nonaktifkan Dosen Fakultas Hukum

Seperti lima menit cerah, namun tiba-tiba berubah jadi mendung, hujan deras bahkan hingga disertai angin kencang.

Fenomena ini sering terjadi di atas ketinggian 2.000 mdpl.

Perubahan cuaca ekstrem ini, seperti kabut tebal, hujan lebat, dan badai yang akhirnya menjadi kendala besar dalam operasi pencarian Syafiq.

Baca Juga: Pergerakan Penumpang Angkutan Udara 2025 Fluktuatif, Puncak Terjadi Oktober

3. Vegetasi Hutan Sangat Lebat

Keindahan panorama alam hutan lebat di Gunung Slamet di satu sisi juga menjadi faktor penyulit dalam operasi pencarian orang hilang.

Hutan yang rapat membuat jarak pandang terbatas dan menyulitkan tim SAR untuk menemukan jejak.

Baca Juga: Ribuan Hektare Sawah di Sumsel Terendam Banjir, Pemerintah Percepat Penyaluran Benih

Selain itu, vegetasi lebat juga bisa menjadi habitat bagi hewan liar.

4. Habitat Macan Kumbang di Jalur Pendakian

Fakta mengejutkan lainnya adalah keberadaan macan kumbang di sekitar jalur pendakian.

Baca Juga: Istri di Palembang Dianiaya Suami dan Dicekik Ipar di Rumah Mertua Hanya Gara-gara Kunci Motor

Keberadaan hewan buas ini menambah risiko bagi para pendaki, terutama jika mereka tersesat atau terpisah dari rombongan.

5. Suhu Dingin Mencapai Titik Beku

Di ketinggian 3.000 mdpl ke atas, suhu udara di Gunung Slamet bisa sangat dingin, bahkan mencapai titik beku di malam hari.

Tanpa perlengkapan yang memadai untuk menahan dingin, pendaki berisiko mengalami hipotermia yang bisa berakibat fatal.(*) 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.