Sumsel

Pasokan FAME Tersendat, Antrean Biosolar di Sumsel Makin Panjang

Kurnia | 8 September 2026, 17:23 WIB
Pasokan FAME Tersendat, Antrean Biosolar di Sumsel Makin Panjang
Ilustrasi.

AKURAT.CO SUMSEL Antrean kendaraan di sejumlah SPBU di Sumatera Selatan (Sumsel) dalam beberapa hari terakhir ternyata tidak semata-mata disebabkan oleh tingginya permintaan Biosolar.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumsel menemukan adanya persoalan lain di balik kondisi tersebut, yakni keterlambatan pasokan Fatty Acid Methyl Ester (FAME), bahan yang digunakan dalam proses pencampuran atau blending Biosolar.

Hal itu terungkap dalam rapat antara Pemprov Sumsel dan PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel di Griya Agung Palembang, Selasa (8/9/2026).

Gubernur Sumsel Herman Deru mengatakan, pemerintah sebelumnya meminta penjelasan kepada Pertamina Patra Niaga terkait antrean panjang kendaraan yang terjadi di sejumlah SPBU.

"Beberapa hari belakangan ini kita tidak bisa tutup mata bahwa antrean semakin panjang," kata Herman Deru.

Dari hasil pembahasan tersebut, diketahui adanya hambatan dalam distribusi FAME dari sejumlah vendor. Kondisi ini kemudian berdampak terhadap ketersediaan bahan baku yang diperlukan sebelum Biosolar disalurkan ke SPBU.

Deru mengatakan, Pertamina Patra Niaga telah mengakui adanya kendala tersebut.

"Memang ada hambatan di distribusi FAME-nya. Jadi sebelum di-blending menjadi Biosolar yang akan didistribusikan ke SPBU," ujarnya.

Untuk mengantisipasi kekurangan pasokan, Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel harus mencari sumber pasokan alternatif. Salah satunya dengan mendatangkan FAME dari Lampung.

Menurut Deru, persoalan pasokan seperti ini semestinya dapat diantisipasi agar tidak berujung pada antrean panjang yang merugikan masyarakat.

Ia meminta ketersediaan Biosolar tetap dijaga sehingga keterlambatan pengiriman bahan baku tidak sampai membuat stok di SPBU kosong.

Baca Juga: Antrean Solar Makin Panjang di Sumsel, Herman Deru Minta Pertamina Benahi Pasokan

Deru juga mendorong agar persoalan distribusi FAME dibahas bersama antara Pertamina, pemerintah, dan seluruh pemasok.

Ia bahkan mengusulkan agar potensi vendor lokal di Sumsel dapat lebih dioptimalkan. Usulan tersebut dinilai relevan karena Sumsel memiliki perkebunan kelapa sawit dengan luas sekitar 1,4 juta hektare.

"Nah, maka tadi saya sarankan untuk kita undang vendor itu. Kita juga sarankan kepada pemangku kebijakan, kenapa tidak ambil khusus vendor dari lokal saja? Jangan yang dari Sulawesi, dari Dumai jauh-jauh itu," ungkapnya.

Sementara itu, Region Manager Retail Sales PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel Ayub Ritto membenarkan adanya keterlambatan pengiriman FAME dari sejumlah vendor.

Ia menjelaskan, FAME bukan diproduksi oleh Pertamina. Bahan tersebut diperoleh melalui perusahaan pemasok yang telah ditetapkan sebagai vendor.

Saat ini terdapat tujuh perusahaan yang menjadi pemasok FAME, yakni Wilmar Bioenergi Indonesia, Pelita Agung Agriindustri, Tunas Baru Lampung, Sari Dumai Sejati, Energi Unggul Persada, LDC Indonesia, dan Multinavita Sulawesi.

Ayub mengatakan, distribusi FAME sebenarnya telah memiliki jadwal yang ditetapkan. Namun, dalam pelaksanaannya terdapat sejumlah pengiriman yang mengalami keterlambatan.

"Ketika ada kendala kami pasti tanya sama vendor kenapa ada kendala. Memang ada beberapa keterlambatan di bulan ini," ujarnya.

Pertamina, lanjut Ayub, telah meminta para vendor memenuhi kewajiban pasokan sesuai dengan komitmen yang telah ditetapkan.

"Vendor-vendor ini sudah ditetapkan dan sebenarnya dalam konteks mereka siap kirim. Tapi ketika dia tidak terkirim, pasti dia punya justifikasi dan kita pun sudah menyampaikan kepada mereka untuk memenuhi komitmen yang diminta," katanya.

Di sisi lain, Pertamina mencatat konsumsi Biosolar di Sumsel memang mengalami peningkatan dalam periode Agustus hingga September 2026.

Ayub menyebut kenaikan permintaan tersebut cukup tajam dan diduga berkaitan dengan meningkatnya aktivitas masyarakat serta sektor usaha menjelang akhir tahun.

"Di bulan Agustus dan September ini kami melihat ada beberapa peningkatan permintaan. Khusus solar ini meningkat. Kalau kami melihat karena mereka mengejar akhir tahun, jadi peningkatannya cukup tajam," kata Ayub.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia