Jelang Lebaran 2026, BI Sumsel Waspadai Lonjakan Harga Cabai dan Bawang

AKURAT.CO SUMSEL Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sumatera Selatan mulai memetakan potensi kenaikan inflasi menjelang momen Idul Fitri 1447 H atau Lebaran 2026. Fokus utama pengawasan kini tertuju pada kelompok bahan pangan bergejolak (volatile food), terutama komoditas cabai dan bawang yang kerap menjadi pemicu utama kenaikan harga.
Kepala BI Sumsel, Bambang Pramono, menyebutkan bahwa berkaca pada pola inflasi tahun 2023 hingga 2025, tren kenaikan harga saat hari besar keagamaan merupakan hal yang sulit dihindari.
Namun, pihaknya bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) berkomitmen untuk menjaga agar lonjakan tersebut tetap terkendali.
Untuk menekan laju inflasi, BI dan TPID menerapkan dua jalur strategi. Dalam jangka pendek, pemerintah akan menggencarkan operasi pasar murah serta mengoptimalkan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP).
Baca Juga: Mantan Gubernur Sumsel Alex Noerdin Wafat di Usia 76 Tahun
"Upaya ini sesuai dengan program Asta Cita, tujuannya agar inflasi tetap terjaga di level yang aman sehingga daya beli masyarakat tidak terganggu," ujar Bambang Pramono, Rabu (25/2/2026).
Selain operasi pasar, Bambang menekankan pentingnya mendeteksi penyebab kenaikan harga. Pihaknya akan memantau apakah kenaikan dipicu murni oleh tingginya permintaan masyarakat atau adanya praktik spekulasi oleh pedagang di pasar.
Tak hanya langkah instan, BI Sumsel juga menyiapkan strategi jangka menengah melalui pemberdayaan sektor pertanian. Salah satu percontohan sukses yang akan direplikasi adalah penguatan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) di Kabupaten Banyuasin.
"Kami ingin membangun ekosistem ketahanan pangan yang kuat. Salah satunya dengan memberikan bantuan sarana dan prasarana pertanian serta pendampingan langsung kepada petani," tambahnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









