Produksi Batu Bara Sumsel Naik di 2025, Namun Masih Jauh dari Target Nasional

AKURAT.CO SUMSEL Produksi batu bara di Sumatera Selatan (Sumsel) sepanjang 2025 menunjukkan tren positif meski belum memenuhi target yang ditetapkan. Sepanjang tahun lalu, realisasi produksi tercatat mencapai 120,74 juta ton, meningkat dibandingkan capaian 2024 yang berada di angka 113,29 juta ton.
Meski mengalami kenaikan, angka tersebut masih terpaut cukup jauh dari target produksi 2025 yang ditetapkan sebesar 164,27 juta ton. Dengan selisih mencapai 43,43 juta ton, realisasi produksi batu bara Sumsel belum sepenuhnya sejalan dengan rencana awal.
Kepala Bidang Teknik dan Penerimaan Minerba Dinas ESDM Sumatera Selatan, Armaya Sentanu Pasek, mengatakan capaian produksi 2025 tetap menjadi catatan positif karena mempertahankan konsistensi produksi di atas 100 juta ton sejak 2023.
“Untuk tahun ini, rencana target produksi 2026 sebesar 156,01 juta ton. Namun, angka tersebut masih bersifat rencana dan belum ditetapkan secara resmi dalam RKAB oleh Kementerian ESDM,” ujar Armaya, Selasa (27/1/2026).
Dari sisi wilayah produksi, Kabupaten Muara Enim masih menjadi kontributor terbesar batu bara di Sumsel. Posisi berikutnya ditempati oleh Kabupaten Lahat, Musi Banyuasin, dan Ogan Komering Ulu (OKU). Sementara itu, sejumlah daerah lain seperti PALI, Musi Rawas Utara (Muratara), dan Banyuasin mulai menunjukkan peningkatan produksi yang cukup signifikan.
Baca Juga: Produksi Karet Sumsel Didominasi Perkebunan Rakyat, Tren Menurun Sejak 2022
Armaya menjelaskan, peningkatan produksi tidak terlepas dari aktivitas pertambangan yang terus berjalan serta upaya optimalisasi izin usaha pertambangan (IUP). Saat ini, tercatat sekitar 122 IUP tambang batu bara yang masih aktif beroperasi di Sumatera Selatan.
Di tengah fluktuasi target dan realisasi produksi, Sumsel dinilai masih memiliki potensi besar. Cadangan batu bara yang dimiliki provinsi ini diperkirakan mampu menopang produksi hingga sekitar 100 tahun ke depan apabila dikelola secara optimal dan berkelanjutan.
Selain menopang kebutuhan energi nasional, sektor pertambangan batu bara juga masih menjadi tulang punggung penerimaan daerah. Dana Bagi Hasil (DBH) dari sektor tambang hingga kini tetap menjadi salah satu sumber pendapatan penting bagi Pemerintah Provinsi Sumsel maupun kabupaten dan kota penghasil.
Ke depan, tantangan Sumsel bukan hanya meningkatkan volume produksi, tetapi juga memastikan pengelolaan tambang yang berkelanjutan serta memberi dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat di sekitar wilayah pertambangan.
Baca Juga: Berlaku Efektif, Pemprov Sumsel Larang Total Truk Batu Bara Melintas di Jalan Umum
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1BMKG Prediksi 12 Daerah Sumsel Akan Dilanda Hujan Besok, Cek Daftar Wilayahnya
- 2Harga BBM Pertamina, Vivo, Shell dan BP Rabu 16 September 2026
- 3Cek Bansos Kemensos September 2026, BPNT Rp600 000 Siap Cair
- 4Desil 1- 4 Dapat Bansos Apa Saja September 2026? Cek Daftarnya di Sini
- 5Antrean BBM di Palembang Tembus 10 Jam, Herman Deru Soroti Pasokan Pertalite dan Bio Solar
- 6Ramai Isu Gempa Megathrust Ancam Indonesia, Apa Saja yang Harus Disiapkan?
- 77 Daerah Sumsel Berstatus Awas Kekeringan, Palembang dan Prabumulih Siaga
- 8Harga iPhone Lama Usai iPhone 18 Pro Meluncur, Naik hingga Rp3 Jutaan per Produk
- 9Lindungi Warga dari Asap Karhutla, Puskesmas di Sumsel Diminta Buka 24 Jam
- 105.303 Jemaah Haji Debarkasi Palembang Sudah Kembali, Empat Kloter Masih Ditunggu









