Sumsel

BPBD Sumsel Persiapkan Status Siaga Darurat Karhutla, Antisipasi Dini Hadapi Kemarau Panjang

Maman Suparman | 3 Juni 2025, 18:15 WIB
BPBD Sumsel Persiapkan Status Siaga Darurat Karhutla, Antisipasi Dini Hadapi Kemarau Panjang

AKURAT.CO SUMSEL Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) memastikan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau 2025 dengan langkah cepat menetapkan status siaga darurat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

Penetapan status ini dilakukan menyusul lonjakan titik panas dan kejadian kebakaran yang mulai muncul di sejumlah wilayah.

Kepala BPBD Sumsel, M Iqbal Alisyahbana, menyampaikan bahwa sejumlah indikator telah terpenuhi untuk menetapkan status siaga darurat Karhutla secara resmi.

“Parameternya sudah cukup, seperti analisis dari BMKG terkait cuaca kering, munculnya hotspot, dan kejadian Karhutla di beberapa kabupaten. Ini menjadi dasar kuat untuk mengambil langkah antisipatif,” ujar Iqbal, Selasa (3/6/2025).

Menurut data BPBD Sumsel, saat ini sudah ada empat daerah yang menetapkan lebih dulu status siaga, yakni Kabupaten PALI, OKI, Musi Banyuasin dan Kota Prabumulih.

Baca Juga: Antisipasi Dini Hadapi Karhutla, BPBD Sumsel Matangkan Rencana Kontinjensi 2025–2027

Di samping itu, tiga wilayah juga dikategorikan sebagai daerah rawan Karhutla. Dari hasil pemantauan, tercatat 10 kejadian kebakaran lahan telah terjadi di sembilan titik di Ogan Ilir dan satu di Kota Prabumulih.

Iqbal menekankan bahwa langkah preventif ini dilakukan lebih awal demi memaksimalkan kesiapan seluruh pihak. Penetapan status siaga Karhutla saat ini tengah dalam proses administrasi oleh Biro Hukum Pemprov Sumsel.

“Kami harus bergerak cepat. Instruksi dari Bapak Gubernur jelas, sekecil apa pun potensi api harus segera ditangani,” tegasnya.

Dalam waktu dekat, BPBD Sumsel juga akan menggelar apel siaga Karhutla yang melibatkan berbagai unsur, termasuk TNI, Polri, dan Manggala Agni, serta membentuk posko gabungan penanggulangan bencana.

Merujuk pada prakiraan BMKG, musim kemarau 2025 diperkirakan akan lebih panjang dan kering dibanding tahun lalu, meski belum separah kemarau ekstrem 2023. Puncak musim kemarau diprediksi akan terjadi antara Agustus hingga September, sehingga potensi terjadinya Karhutla pun meningkat.

“Dengan status siaga ini, seluruh kekuatan akan disinergikan sejak dini untuk mencegah meluasnya kebakaran. Fokus kami adalah deteksi dini, respon cepat, dan kolaborasi lintas sektor,” pungkas Iqbal. (Deny Wahyudi)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
K
Editor
Kurnia