Sumsel

Teater Dulmuluk, Warisan Kesenian Khas Palembang yang Mulai Terlupakan

Deni Hermawan | 18 Desember 2023, 09:10 WIB
Teater Dulmuluk, Warisan Kesenian Khas Palembang yang Mulai Terlupakan

AKURAT.CO SUMSEL Indonesia memiliki beragam warisan yang memiliki nilai mendalam, mulai dari kuliner, wisata, hingga kesenian. 

Salah satu warisan kesenian tradisional asli Palembang adalah teater Dulmuluk.

Seni teater Dulmuluk turun-temurun diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dahulu, kesenian ini dinantikan oleh masyarakat Palembang dari berbagai lapisan usia.

Baca Juga: Lewat Pentas Seni, Para Mahasiswa Palembang ini Sampaikan Pesan Melestarikan Alam dan Seni Teater

Dalam jurnal "Fungsi Edukatif Tradisi Lisan Teater Dulmuluk pada Masyarakat Kota Palembang" yang ditulis oleh Margareta Andriani, dkk., diungkapkan bahwa seni tradisional dulmuluk memegang peranan penting dalam memperkuat identitas, martabat, dan keberadaan suatu bangsa. 

Teater ini memegang fungsi yang signifikan dalam kehidupan masyarakat Kota Palembang.

Pada umumnya, dulu teater ini dipentaskan untuk memeriahkan hajatan pernikahan, sunatan, pemeberian nama bayi, dan perayaan ulang tahun Kota Palembang.

Namun, pada masa kini, kehadiran teater dulmuluk semakin meredup. 

Masyarakat Palembang lebih cenderung menikmati hiburan seperti orkes dan organ tunggal sebagai alternatif hiburan, terutama generasi muda yang lebih tertarik menyaksikan drama percintaan melalui televisi.

Apakah teman Akurat mengetahui tentang sejarah teater kesenian Dulmuluk Kota Palembang?  Yuk simak artikel ini sampai selesai.

Sejarah Teater Kesenian Dulmuluk

Menurut laman resmi Badan Bahasa Kemdikbud, Teater Dulmuluk adalah seni khas yang berasal dari Palembang, Sumatera Selatan, dan telah ada sejak tahun 1845.

Pada awalnya, Dulmuluk adalah pembacaan syair Abdul Muluk yang kemudian bermetamorfosis menjadi seni teater tradisional.

Seorang pedagang keliling berdarah Arab bernama Wan Bakar atau Shecj Ahmad Bakar memperkenalkan kesenian ini saat berdagang di berbagai tempat seperti Palembang, Singapura, Negri Johor Malaysia, Kepulauan Riau, dan Pulau Bangka.

Dengan cara menyampaikan syair Dulmuluk secara lisan, berupa pembacaan kitab-kitab yang berisi hikayat dalam bentuk syair maupun cerita, ia menyebarluaskan kisah tersebut.

Abdul Muluk kemudian diminati oleh masyarakat di berbagai lokasi. Antara tahun 1910 hingga 1930, pertunjukan Dulmuluk pertama kali disajikan dalam format teater.

Setelah tahun 1930, pertunjukan sandiwara dari kelompok bangsawan yang berasal dari Jawa mulai sedikit demi sedikit mempengaruhi perkembangan teater Dulmuluk di Palembang.

Berbekal popularitasnya di kalangan masyarakat, pertunjukan Dulmuluk sering dihadirkan dalam acara-acara kenduri.

Pertunjukan teater ini biasanya berlangsung semalam penuh, dimulai dari pukul 20.30 hingga pukul 04.00 dini hari.

Demikianlah sejarah singkat tentang teater kesenian Dulmuluk Kota Palembang. 

(MG/CC Dandy Dwi Putra Handho)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

D
A