Sejarah Maulid Nabi, Dari Dinasti Fatimiyah Hingga Penyebaran di Dunia Islam

AKURAT.CO SUMSEL Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, yang menandai kelahiran Nabi, merupakan salah satu tradisi penting dalam kalender umat Islam di berbagai negara.
Namun, asal usul perayaan ini sering menjadi topik diskusi menarik di kalangan sejarawan Islam.
Berdasarkan referensi ilmiah dan berbagai sumber sejarah, diketahui bahwa perayaan Maulid pertama kali diselenggarakan pada abad ke-12 di bawah kekuasaan Dinasti Fatimiyah di Mesir.
Asal Usul Maulid Nabi di Era Fatimiyah
Dinasti Fatimiyah, yang menganut aliran Syiah Ismailiyah, merupakan penguasa yang memperkenalkan perayaan berbagai hari besar Islam, termasuk Maulid Nabi.
Menurut sejarawan terkenal Al-Maqrizi, dalam bukunya Al-Khitat, Maulid Nabi dijadikan bagian dari strategi politik Dinasti Fatimiyah untuk memperkuat legitimasi mereka sebagai pemimpin yang diklaim keturunan langsung dari Nabi Muhammad.
Perayaan ini berlangsung meriah, baik di lingkungan istana maupun di tengah masyarakat umum, dengan prosesi resmi dan berbagai acara keagamaan.
Meski dinasti ini memanfaatkan peringatan Maulid sebagai alat politik, pengaruh mereka pada kebudayaan Islam terus terasa hingga hari ini.
Peran Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi
Setelah runtuhnya Dinasti Fatimiyah, Maulid Nabi memperoleh dukungan baru dari Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi, pendiri Dinasti Ayyubiyah.
Sejarawan seperti Ibn Katsir mencatat bahwa Shalahuddin memanfaatkan perayaan Maulid Nabi sebagai upaya untuk memperkuat semangat persatuan di antara umat Islam, terutama dalam menghadapi Tentara Salib.
Dengan mengadakan perayaan Maulid, Shalahuddin berharap menanamkan kecintaan umat Islam kepada Nabi Muhammad dan mengobarkan semangat jihad.
Di bawah pengaruhnya, Maulid Nabi yang sebelumnya dikenal di kalangan Syiah mulai tersebar luas di dunia Sunni. Dengan dukungan dari pemerintahan Shalahuddin, peringatan ini akhirnya menyebar ke berbagai wilayah Islam, mulai dari Timur Tengah hingga Asia Tenggara.
Penyebaran Tradisi Maulid di Dunia Islam
Tradisi peringatan Maulid Nabi terus berkembang hingga mencapai wilayah-wilayah Islam lainnya, termasuk Indonesia.
Di beberapa negara, peringatan Maulid Nabi menjadi momen penting untuk mengadakan pengajian, tabligh akbar, dan kegiatan sosial yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat.
Sejarah panjang Maulid Nabi ini menunjukkan bagaimana perayaan yang awalnya lahir dari konteks politik dan keagamaan akhirnya menjadi bagian integral dari budaya dan tradisi Islam di seluruh dunia.
Meski beberapa kalangan memiliki pandangan berbeda mengenai hukum perayaan ini, kecintaan umat Islam terhadap Nabi Muhammad terus menjadi inti dari peringatan Maulid di mana pun dilaksanakan. (Kurnia)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini








