Sumsel

Cuaca Sumsel Tak Menentu, BMKG: Iklim Global Netral Tapi Hujan Bisa Turun Mendadak

Maman Suparman | 23 Agustus 2025, 16:50 WIB
Cuaca Sumsel Tak Menentu, BMKG: Iklim Global Netral Tapi Hujan Bisa Turun Mendadak

AKURAT.CO SUMSEL Meski fenomena iklim global seperti El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) masih dalam kondisi netral, cuaca di Sumatera Selatan (Sumsel) disebut tetap sulit diprediksi.

Stasiun Klimatologi Sumsel mengingatkan masyarakat agar tidak lengah menghadapi musim kemarau yang kini berlangsung.

Kepala Stasiun Klimatologi Sumsel, Wandayantolis, mengatakan peluang hujan pada dasarian III Agustus diperkirakan akan menurun. Namun, faktor dinamika atmosfer seperti Madden Julian Oscillation (MJO) dan gelombang Rossby masih berpotensi memicu hujan secara tiba-tiba di sejumlah wilayah.

“Secara umum kita masuk musim kemarau, tapi bukan berarti hujan sama sekali tidak terjadi. Justru pada akhir Agustus ini, peluang hujan sesaat masih bisa muncul akibat pengaruh fenomena atmosfer regional,” jelasnya, Sabtu (23/8/2025).

Data Stasiun Klimatologi mencatat, 71 persen wilayah Sumsel mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) kategori sangat pendek atau 1–5 hari pada dasarian II Agustus.

Sementara sebagian kecil wilayah Palembang dan Lahat masuk kategori pendek, yakni 6–10 hari. Di sisi lain, hujan lebat juga sempat mengguyur Musi Banyuasin dengan curah mencapai 186 milimeter.

Baca Juga: Santan Beku Jadi Primadona Ekspor Sumsel, 50 Ton Dikirim ke China

“Ini menunjukkan tren cuaca di Sumsel bervariasi, ada yang kering cukup panjang tapi ada juga wilayah yang masih menerima hujan tinggi,” kata Wandayantolis.

Pemantauan BMKG menunjukkan indeks IOD berada di angka -0,87 dan ENSO di -0,2. Keduanya diperkirakan tetap netral hingga paruh kedua 2025. Namun kondisi netral ini tidak serta-merta membuat cuaca stabil.

“Pergerakan angin timur, tekanan rendah di barat Sumatra, serta aktivitas MJO dan Rossby menjadi faktor yang membuat cuaca di Sumsel bisa berubah mendadak,” ujarnya.

Wandayantolis mengingatkan bahwa meskipun hujan masih mungkin turun, risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tetap tinggi selama musim kemarau. Selain itu, hujan mendadak bisa disertai petir dan angin kencang.

“Masyarakat jangan terkecoh dengan kondisi cerah berkepanjangan. Hujan ekstrem bisa saja muncul tiba-tiba. Selain itu, titik panas berpotensi meningkat, sehingga kewaspadaan terhadap karhutla juga tetap perlu ditingkatkan,” tegasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
K
Editor
Kurnia