Pilkada Lewat DPRD Tak Jamin Politik Uang Hilang, Justru Berisiko Putus Legitimasi Rakyat

AKURAT.CO SUMSEL Wacana pengalihan sistem Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) dari pemilihan langsung oleh rakyat menjadi melalui DPRD mendapat kritik tajam dari akademisi.
Pakar Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang, Yulion Zalpa, menilai perubahan mekanisme tersebut bukan solusi jitu untuk memberantas praktik politik uang yang selama ini menjadi persoalan klasik demokrasi di Indonesia.
Menurut Yulion, mengubah sistem pemilihan tidak serta-merta menghapus transaksi politik. Sebaliknya, pola tersebut dikhawatirkan hanya akan menggeser praktik politik uang dari masyarakat umum ke lingkaran elite politik di parlemen daerah.
"Tidak ada jaminan politik uang akan lenyap. Praktik itu justru berpotensi berpindah dari akar rumput ke elite politik di DPRD," ujar Yulion saat diwawancarai, Jumat (16/1/2026).
Yulion menekankan bahwa meskipun kedua sistem tersebut konstitusional, penghapusan pemilihan langsung di Indonesia berisiko besar melemahkan kedaulatan rakyat.
Baca Juga: Cuma Butuh Semenit, Motor Peziarah di TPU Kandang Kawat Palembang Raib Digondol Maling
Ia berpendapat bahwa kepala daerah yang dipilih oleh DPRD akan memiliki beban moral dan loyalitas yang lebih besar kepada partai politik atau fraksi ketimbang kepada masyarakat luas.
"Jika dipilih oleh DPRD, akuntabilitas publik seorang kepala daerah berisiko melemah. Legitimasi dan tanggung jawab moral langsung kepada rakyat menjadi terputus karena proses penentuannya berlangsung di ruang-ruang elite yang tertutup," jelasnya.
Dampak lain yang disoroti adalah tertutupnya peluang bagi calon perseorangan atau independen. Tanpa pemilihan langsung, hanya kandidat yang mendapat dukungan fraksi partai yang bisa maju, sehingga membatasi alternatif kepemimpinan bagi daerah.
Selain itu, Yulion mencemaskan dampak psikologis terhadap partisipasi politik Generasi Z. Ia menilai penghapusan hak pilih langsung dapat memicu sikap apatis di kalangan pemilih muda yang seharusnya mulai belajar menentukan arah kepemimpinan melalui pengalaman demokrasi inklusif.
"Menghilangkan ruang partisipasi langsung berpotensi memutus akses generasi muda dan menurunkan tingkat kepercayaan mereka terhadap institusi politik," tegas Yulion.
Alih-alih merombak total sistem pemilihan, Yulion menyarankan pemerintah untuk fokus pada penguatan pengawasan dan penegakan hukum dalam sistem Pilkada langsung yang sudah berjalan. Masalah efisiensi anggaran yang sering dijadikan alasan dianggap tidak cukup kuat untuk mengorbankan kualitas demokrasi.
"Yang diperlukan adalah evaluasi dan penguatan lembaga pengawasan, bukan mengganti sistemnya. Menjaga Pilkada langsung berarti menjaga komitmen terhadap kedaulatan rakyat," pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cek Harga Emas Perhiasan Palembang Senin 2 November 2026, Naik atau Turun?
- 2BSU Kemnaker Cair November 2026, Cek Syarat Penerima dan Besaran Bantuan
- 3Kapan BSU Kemnaker 2026 Cair? Cek Jadwal dan Besaran Bantuannya di Sini
- 4Rekrutmen TNI AD 2027 Dibuka, Ini Jadwal Bintara dan Tamtama serta Cara Daftarnya
- 5Update Harga Terbaru Emas Perhiasan Palembang Rabu 4 November 2026
- 6Harga Emas Perhiasan Palembang Stabil Hari Ini, Termahal Rp13,7 Juta per Suku
- 7Daftar Hari Besar Nasional November 2026, Cek Tanggal Merah dan Hari Liburnya
- 85 Ramalan Zodiak Hari Ini Rabu 4 November 2026, Aries hingga Leo Punya Peluang Baru
- 9Lindungi Warga dari Asap Karhutla, Puskesmas di Sumsel Diminta Buka 24 Jam
- 105.303 Jemaah Haji Debarkasi Palembang Sudah Kembali, Empat Kloter Masih Ditunggu





