Diabetes Mengintai Anak, Dokter Ingatkan Orang Tua Lebih Waspada

AKURAT.CO SUMSEL Diabetes kini tak lagi identik dengan orang dewasa. Penyakit ini juga dapat menyerang anak-anak, bahkan dalam beberapa kasus memerlukan pengobatan seumur hidup.
Dokter Spesialis Anak, dr. Aditiawati, Sp.A (K), menjelaskan mayoritas kasus diabetes pada anak adalah diabetes tipe 1 yang disebabkan gangguan autoimun. Kondisi ini membuat pankreas rusak sehingga tidak lagi mampu memproduksi insulin.
“Anak dengan diabetes tipe 1 harus mendapatkan insulin seumur hidup. Penyebabnya bukan karena makan manis berlebihan, melainkan faktor genetik dan pemicu seperti virus atau bahan kimia tertentu,” ujar Aditiawati, Sabtu (30/8/2025).
Berbeda dengan tipe 1, diabetes tipe 2 yang selama ini lebih banyak menyerang orang dewasa, kini mulai meningkat pada anak-anak. Penyebabnya berkaitan erat dengan obesitas dan gaya hidup tidak sehat.
“Resistensi insulin muncul ketika tubuh kelebihan berat badan. Gejalanya bisa dikenali, misalnya anak sering buang air kecil terutama malam hari, mudah haus, selalu lapar, tapi berat badan justru turun. Kalau terlambat ditangani, bisa berujung komplikasi seperti gagal ginjal,” jelasnya.
Untuk mencegah diabetes tipe 2 pada anak, Aditiawati menekankan pentingnya menjaga prinsip 3J: jumlah, jenis, dan jadwal makan.
Artinya, makanan harus sesuai kebutuhan, bergizi seimbang, serta dikonsumsi pada jam yang teratur. Aktivitas fisik juga wajib dijaga agar berat badan tetap ideal.
“Dengan pengelolaan yang baik, anak dengan diabetes tetap bisa tumbuh normal, bersekolah, dan beraktivitas seperti anak-anak lain,” katanya.
Aditiawati menambahkan, dirinya menangani lebih dari 150 pasien anak dengan diabetes dari berbagai daerah, mulai Sumatera Selatan, Jambi, Bengkulu, hingga Bangka.
“Kalau kontrol dilakukan secara konsisten, mereka bisa hidup sehat dan komplikasi dapat dicegah,” tegasnya.
Data Dinas Kesehatan Provinsi Sumsel menunjukkan, pada 2023 tercatat 605.570 pasien diabetes. Angka itu turun pada 2024 menjadi 397.253 pasien berusia di atas 15 tahun, sementara pasien anak di bawah usia 15 tahun tercatat enam orang.
Meski jumlah anak relatif kecil, para orang tua tetap diminta waspada.
“Kalau ada gejala, segera periksakan. Penanganan dini sangat menentukan,” pungkas Aditiawati.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









