Sumsel

AS Ancam Tingkatkan Sanksi Ekonomi Terhadap Iran, 5 Sektor Ini Jadi Sasaran

Septiyanti Dwi Cahyani | 27 Agustus 2026, 20:32 WIB
AS Ancam Tingkatkan Sanksi Ekonomi Terhadap Iran, 5 Sektor Ini Jadi Sasaran

AKURAT. CO SUMSEL - Donald Trump kembali mengubah strategi perang dengan Iran.

Alih-alih meningkatkan serangan militer, presiden Amerika Serikat itu kini memilih memberi sanksi ekonomi besar-besaran terhadap Teheran.

Bukan hanya Iran, ancaman tersebut juga berlaku bagi negara-negara pendukung Teheran.

Baca Juga: Regulasi Ekonomi Digital Harus Adaptif, Misbakhun: Jangan Mematikan Inovasi

Apa Saja Sanksi Ekonomi AS Terhadap Iran?

Amerika Serikat memberlakukan sanksi ekonomi luas untuk mengisolasi Iran dan memutus jaringan keuangan serta jalur perdagangan internasional negara tersebut. Sektor utama yang disasar meliputi:

  • Sektor Energi dan Minyak: Embargo ketat pada ekspor minyak mentah dan produk petrokimia Iran.

Baca Juga: Komentari Knalpot Brong, Remaja Perempuan di Palembang Diduga Dijambak dan Ditendang

  • Jaringan Keuangan (Shadow Banking): Penindakan terhadap perbankan tidak resmi, perusahaan cangkang, dan tempat penukaran uang.

  • Sektor Baru (Operasi Pengucilan Ekonomi): Perluasan sanksi sekunder yang menyasar aset digital, teknologi, emas, penerbangan, dan pelayaran.

  • Mitra Dagang: Ancaman sanksi bagi entitas atau negara pihak ketiga yang tetap memfasilitasi transaksi atau perdagangan dengan Iran.

Baca Juga: Beli Samsung Galaxy A17 5G di Facebook Marketplace Rp2,2 Juta, Warga Banyuasin Kena Tipu

Sementara itu, Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent, Senin (24/8/2026), mengatakan sanksi baru AS terhadap Iran berfokus pada lima sektor utama ekonomi.

Seperti penerbangan, pelayaran, teknologi, emas, dan aset digital.

Dia menambahkan bahwa Departemen Keuangan AS juga menjatuhkan sanksi terhadap lebih dari 60 entitas, individu, dan kapal terkait Iran.

Baca Juga: Kasus ISPA Palembang Tembus Ribuan, Dinkes Ingatkan Warga Waspadai Asap Karhutla

Iran di Ambang Krisis Besar

Kondisi ekonomi Iran saat ini mengalami tekanan berat akibat pelemahan mata uang yang parah, lonjakan inflasi, serta sanksi internasional yang semakin ketat.

Nilai tukar mata uang rial Iran jatuh ke level terendah sepanjang masa, menembus kisaran dua juta rial per dolar AS.

Baca Juga: Dijanjikan 2 Anak Lolos ASN Kemenkumham dan Kejaksaan, Pasutri Palembang Rugi Rp1,03 Miliar

Inflasi diproyeksikan melonjak tinggi menjelang akhir tahun akibat gangguan rantai pasok dan biaya impor yang mahal.

Masyarakat mulai menghadapi masalah kekurangan bahan bakar, pemadaman listrik bergilir di tengah cuaca panas, serta lonjakan harga kebutuhan pokok.

Sebagian besar kelas menengah dan pekerja semakin terhimpit oleh kenaikan biaya hidup. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.