Sumsel

Mengapa Bau Bayi Terasa Wangi bagi Orang Tua, tapi Berubah Saat Anak Remaja?

Kurnia | 22 September 2026, 10:00 WIB
Mengapa Bau Bayi Terasa Wangi bagi Orang Tua, tapi Berubah Saat Anak Remaja?

AKURAT.CO SUMSEL Ada alasan ilmiah mengapa banyak orang tua merasa aroma tubuh bayi mereka begitu menyenangkan.

Aroma khas yang keluar dari tubuh anak ternyata bukan sekadar pengalaman subjektif, tetapi berkaitan dengan respons biologis dan sistem penghargaan di otak.

Menariknya, persepsi terhadap aroma tersebut dapat berubah ketika anak tumbuh besar.

Saat memasuki masa pubertas, aroma tubuh anak yang sebelumnya dianggap menyenangkan oleh orang tua mulai kehilangan daya tariknya.

Fenomena tersebut menjadi perhatian dalam penelitian yang melibatkan ratusan sampel aroma tubuh anak. Temuan itu juga kemudian mendapat penghargaan Ig Nobel 2026 dalam kategori yang berkaitan dengan indra penciuman.

Aroma bayi dan naluri pengasuhan

Ketertarikan orang dewasa terhadap karakteristik bayi sebenarnya telah lama menjadi perhatian ilmuwan. Konsep Kindchenschema menggambarkan karakteristik fisik bayi, seperti mata besar, wajah bulat, dan pipi tembam, yang dapat memunculkan respons gemas serta dorongan untuk melindungi.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa mekanisme serupa kemungkinan juga berkaitan dengan penciuman.

Ketika orang dewasa mencium aroma tubuh bayi, sejumlah area otak yang berhubungan dengan penghargaan dan perasaan menyenangkan dapat menunjukkan aktivitas.

Respons tersebut dipandang berkaitan dengan dorongan untuk memberikan perhatian dan pengasuhan kepada anak.

Dengan kata lain, aroma bayi kemungkinan menjadi salah satu bagian dari sinyal biologis yang membantu memperkuat ikatan antara orang tua dan anak.

Baca Juga: 5 Update Baru Perang Iran AS: China Didesak Turun Gunung Damaikan Kedua Negara

Orang tua lebih menyukai aroma anak dibanding pasangan?

Salah satu temuan yang menarik datang dari penelitian sebelumnya. Sekitar 255 pasangan orang tua diminta menilai aroma tubuh anak mereka dan kemudian membandingkannya dengan aroma tubuh pasangan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum aroma tubuh anak kecil dinilai lebih menyenangkan dibandingkan aroma tubuh pasangan.

Namun, preferensi tersebut tidak berlangsung selamanya.

Seiring bertambahnya usia anak, penilaian orang tua terhadap aroma tubuh mereka mengalami perubahan. Perubahan paling mencolok terjadi ketika anak memasuki masa pubertas.

Pubertas mengubah aroma tubuh anak

Masa pubertas membawa perubahan besar pada tubuh, termasuk aktivitas kelenjar yang menghasilkan zat-zat penyebab munculnya aroma tubuh yang lebih kuat.

Dalam penelitian terbaru yang dipimpin Ilona Croy, peneliti menggunakan sekitar 300 sampel aroma tubuh anak. Aroma tersebut kemudian dinilai oleh orang tua maupun orang yang tidak memiliki hubungan sebagai orang tua dengan anak tersebut.

Aktivitas otak orang tua juga diamati menggunakan functional magnetic resonance imaging (fMRI).

Hasilnya menunjukkan adanya pola yang menarik. Aroma anak yang masih kecil cenderung memperoleh respons positif. Namun, ketika anak memasuki pubertas, sebagian orang tua justru tidak lagi menilai aromanya sebagai sesuatu yang menyenangkan.

Setelah melewati masa pubertas, aroma tubuh anak cenderung dinilai lebih netral.

Bukan berarti kasih sayang orang tua ikut berubah

Perubahan respons terhadap aroma tubuh anak tidak berarti hubungan emosional orang tua dan anak ikut menghilang.

Para peneliti melihat fenomena tersebut sebagai bagian dari perubahan preferensi penciuman yang kemungkinan berkaitan dengan perkembangan biologis anak.

Manusia juga memiliki kemampuan untuk membangun keterikatan melalui pengalaman. Aroma seseorang yang awalnya terasa asing atau kurang menyenangkan dapat menjadi familiar setelah sering ditemui.

Karena itu, perubahan aroma tubuh anak selama pertumbuhan tidak serta-merta mengubah rasa sayang orang tua.

"Secara biologis kita cenderung merawat keturunan. Pada saat yang sama, kita dapat belajar mencintai kembali aroma familiar orang-orang terdekat, meskipun aroma tersebut berubah sepanjang hidup mereka," ujar Ilona Croy, sebagaimana dikutip dari Phys.org.

Fenomena aroma anak berujung penghargaan Ig Nobel

Penelitian mengenai perubahan persepsi aroma tubuh anak ini kemudian mendapat perhatian lebih luas setelah meraih Ig Nobel 2026 untuk kategori Olfaction atau indra penciuman.

Penghargaan tersebut dikenal karena mengapresiasi penelitian yang pada awalnya dapat membuat orang tertawa atau merasa heran, tetapi kemudian mendorong masyarakat untuk melihat persoalan tersebut dari sudut pandang ilmiah.

Ig Nobel diselenggarakan oleh Annals of Improbable Research sejak 1991. Slogan penghargaan ini adalah "first make people laugh, then make them think".

Penelitian tentang aroma tubuh anak menjadi salah satu contoh bagaimana pertanyaan yang tampak sederhana dalam kehidupan sehari-hari ternyata dapat membuka pembahasan mengenai otak, perilaku manusia, hubungan orang tua dan anak, hingga mekanisme biologis yang mendasari pengasuhan.

Baca Juga: 17 Aki dan 20 Charger Mobil Golf Dicuri, Pelaku Ditangkap Polisi

Pada akhirnya, mungkin ada satu hal yang tetap sama meski aroma tubuh anak berubah: bayi tumbuh menjadi remaja, aromanya berubah, tetapi ikatan keluarga tidak berhenti di sana.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia