Sumsel

Ini Alasan Kenapa Orang Bisa Benci Jadi Cinta, Kok Bisa?

Maman Suparman | 14 Mei 2025, 11:00 WIB
Ini Alasan Kenapa Orang Bisa Benci Jadi Cinta, Kok Bisa?



AKURAT.CO SUMSEL Pernah nggak sih kamu atau temanmu jatuh cinta sama seseorang yang dulu bikin gregetan saking sebelnya? Hubungan yang diawali dengan rasa benci, ternyata bukan hal aneh dalam dunia percintaan.

Bahkan, banyak cerita cinta yang dimulai dari konflik atau rasa tidak suka.

Lalu, kenapa bisa terjadi perubahan dari benci jadi cinta? Berikut lima alasan logis (dan sedikit romantis) yang sering jadi pemicunya:

1. Benci Karena Terlalu Perhatian

Kadang, kita merasa risih atau terganggu dengan seseorang yang terlalu mencampuri urusan kita.

Tapi, saat diperhatikan lebih jauh, sikap itu bukan karena ingin menjatuhkan, melainkan bentuk kepedulian tersembunyi. Lama-lama, perhatian itu bisa berubah jadi rasa nyaman dan dari nyaman, datanglah cinta.

2.Sering Debat Jadi Dekat

Awalnya sering adu argumen, berseberangan pandangan, atau saling sindir. Tapi tanpa disadari, dari seringnya berinteraksi, muncul koneksi.

Baca Juga: 5 Kebiasaan Sederhana untuk Mempertajam Daya Ingat di Usia 30-an

Otak memang terlibat dalam logika, tapi hati pelan-pelan mulai ikut campur, apalagi kalau keduanya punya chemistry kuat.

3. Ternyata Nggak Sejahat yang Dibayangkan

First impression bisa menipu. Kadang seseorang terlihat menyebalkan di awal, tapi setelah kenal lebih dalam, justru kepribadiannya jauh lebih menyenangkan.

Rasa benci pun luntur seiring waktu dan berubah jadi kekaguman. Dari sinilah benih-benih cinta mulai tumbuh.

4. Sering Ketemu, Jadi Terbiasa

Psikolog menyebutnya "mere exposure effect", di mana semakin sering kita melihat atau berinteraksi dengan seseorang, semakin besar kemungkinan kita menyukainya.

Bahkan rasa tidak suka pun bisa berubah hanya karena faktor kebiasaan dan keakraban.

5. Ada Sisi Diri yang Diam-diam Terkoneksi

Tanpa sadar, orang yang kita benci justru mencerminkan bagian dari diri kita sendiri—baik dari sisi kekurangan, kepribadian, atau cara berpikir.

Hal ini menciptakan koneksi emosional yang unik. Karena saling memahami dan menantang satu sama lain, akhirnya tumbuh perasaan yang tak terduga.

Benci dan cinta ternyata memang setipis itu jaraknya. Perasaan bisa berubah seiring waktu, terutama saat ada interaksi, koneksi emosional, atau bahkan hanya karena sering bersama.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
K
Editor
Kurnia