Sumsel

Konsumsi Rumah Tangga Diprediksi Dongkrak Ekonomi Sumsel hingga 1,3 Persen Selama Ramadan-Lebaran

Kurnia | 14 Maret 2026, 22:00 WIB
Konsumsi Rumah Tangga Diprediksi Dongkrak Ekonomi Sumsel hingga 1,3 Persen Selama Ramadan-Lebaran

AKURAT.CO SUMSEL Momentum Ramadan dan Idulfitri 2026 diproyeksi menjadi motor utama penggerak ekonomi di Sumatra Selatan (Sumsel).

Peningkatan konsumsi masyarakat selama periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) ini diperkirakan mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.

Pengamat Ekonomi dari Universitas Sriwijaya, Sukanto, mengungkapkan bahwa konsumsi masyarakat di Bumi Sriwijaya biasanya melonjak hingga 20% saat momen Lebaran.

Mengingat sekitar 60% struktur Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sumsel ditopang oleh konsumsi rumah tangga, lonjakan ini berdampak langsung pada angka pertumbuhan ekonomi.

"Jika ada kenaikan pertumbuhan konsumsi dari 3% menjadi 5%, maka tambahan 2% tersebut berkontribusi sekitar 1,2 hingga 1,3% terhadap total pertumbuhan ekonomi daerah jika dikalikan dengan bobot konsumsi yang mencapai 60%," ujar Sukanto, Sabtu (14/3/2026).

Baca Juga: Mudik 2026, Simak Aturan Pembatasan Truk dan Daftar Kendaraan yang Kebal Aturan di Sumsel

Selain belanja rumah tangga, mobilitas pemudik tahun ini diprediksi akan memperkuat perputaran uang di sektor riil. Pemerintah memproyeksikan sebanyak 3,85 juta orang akan masuk ke wilayah Sumsel dari total 140 juta pemudik secara nasional.

Meski prospeknya cerah, Sukanto memberikan catatan terkait risiko global yang membayangi. Konflik berkepanjangan di Timur Tengah dikhawatirkan mengganggu stabilitas pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) nasional.

"Jika terjadi kelangkaan BBM, risiko inflasi akan meningkat dan berpotensi menekan daya beli. Hal ini bisa membuat pertumbuhan konsumsi saat Lebaran tidak seoptimal biasanya," tuturnya.

Ia juga mengingatkan pemerintah daerah dan pelaku usaha untuk mengantisipasi fase lesu pasca-Lebaran. Menurutnya, setelah periode Idulfitri berakhir, sering kali terjadi koreksi atau perlambatan konsumsi karena masyarakat cenderung membatasi pengeluaran setelah habis-habisan di masa liburan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia