IDI Palembang Angkat Bicara soal Polemik Dokter Viral, Ingatkan Pentingnya Etika dan Empati di Media Sosial

AKURAT.CO SUMSEL Polemik komentar seorang dokter di media sosial yang menjadi sorotan publik mendapat perhatian dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Palembang.
Organisasi profesi tersebut mengingatkan seluruh tenaga kesehatan agar selalu mengedepankan etika dan empati, baik saat memberikan pelayanan kepada pasien maupun ketika beraktivitas di ruang digital.
Ketua IDI Cabang Palembang, dr. Yuli Kurniawati, Sp.D.V.E., Subsp. D.K.E., FINSDV, FAADV, mengatakan media sosial tidak boleh dijadikan ruang untuk menyampaikan pendapat tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap orang lain.
"Sebagai bagian dari masyarakat, kita harus mampu menjaga sikap, perilaku, maupun tutur kata dalam setiap kondisi, termasuk ketika menggunakan media sosial," ujar dr. Yuli, Kamis (6/8/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul ramainya perbincangan mengenai komentar yang diduga dibuat oleh dokter Tamara Dewi Jasmine melalui akun Threads @tamdjs terhadap unggahan almarhum Yurizal Tri Chaerawan, pasien BPJS Kesehatan yang sebelumnya mengeluhkan pelayanan kesehatan di media sosial.
Kasus tersebut memicu kritik luas dari masyarakat dan kini sedang menjalani proses pemeriksaan internal oleh rumah sakit tempat dokter yang bersangkutan bertugas.
Baca Juga: Dokter RS Pusri yang Viral karena Komentar di Media Sosial Minta Maaf, Manajemen Siapkan Sanksi
Menurut dr. Yuli, perkembangan teknologi dan media sosial memang memudahkan setiap orang menyampaikan pendapat. Namun, kebebasan tersebut tetap harus diimbangi dengan tanggung jawab serta etika dalam berkomunikasi.
"Kemajuan teknologi bukan berarti kita bebas memberikan komentar tanpa memperhatikan norma dan etika. Semua harus dilakukan secara bijaksana," katanya.
Ia menegaskan, tenaga kesehatan memiliki tanggung jawab moral untuk menunjukkan empati kepada pasien karena profesi tersebut berhubungan langsung dengan pelayanan kemanusiaan.
"Empati adalah bagian penting dari profesi tenaga kesehatan. Karena itu, setiap tenaga kesehatan harus berhati-hati dalam menyikapi maupun memberikan komentar di media sosial agar tidak menimbulkan kesalahpahaman atau melukai perasaan pihak lain," ujarnya.
Selain itu, dr. Yuli mengingatkan bahwa setiap dokter yang menjadi anggota IDI terikat dengan Kode Etik Kedokteran Indonesia dan wajib mematuhi mekanisme pembinaan yang dilakukan oleh Majelis Etik Kedokteran.
"Setiap anggota IDI memiliki kewajiban untuk menjunjung tinggi kode etik profesi dan mengikuti pembinaan yang dilakukan oleh majelis etik," tegasnya.
Ia berharap peristiwa yang menjadi perhatian publik tersebut dapat menjadi pembelajaran bagi seluruh tenaga kesehatan agar semakin bijak dalam menggunakan media sosial tanpa mengabaikan nilai-nilai profesionalisme dan empati.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1BMKG Prediksi Sumsel Akan Dilanda Hujan Besok, Palembang Berpotensi Sore dan Malam
- 2Siap-siap, Kemensos dan PT Pos Siapkan Skema Baru Penyaluran Bansos
- 3Avengers Endgame: Encore Resmi Tayang di Bioskop, Simak Perbedaannya dengan Versi 2019
- 4BMKG Prediksi 15 Daerah di Sumsel Masih Dilanda Hujan Besok Rabu 23 September 2026
- 5HP Realme 16 Pro Edisi Harry Potter Rilis di Indonesia, Cek Spesifikasi dan Harganya
- 6Ramalan Zodiak Cancer Hari Ini 23 September 2026: Jangan Terburu-buru Ambil Keputusan
- 7Cek Harga Emas Perhiasan di Palembang Selasa 22 September 2026, Naik atau Turun?
- 8Penyaluran Bansos Tahap 3 September 2026 Segera Berakhir, Cek Status Pencairanmu Segera
- 9Lindungi Warga dari Asap Karhutla, Puskesmas di Sumsel Diminta Buka 24 Jam
- 105.303 Jemaah Haji Debarkasi Palembang Sudah Kembali, Empat Kloter Masih Ditunggu








