Sumsel

Sejarah Gua Putri Dari Legenda Sipahit Lidah Hingga Keindahan Alam di Ogan Komering Ulu

Deni Hermawan | 7 September 2024, 22:00 WIB
Sejarah Gua Putri Dari Legenda Sipahit Lidah Hingga Keindahan Alam di Ogan Komering Ulu

AKURAT.CO SUMSEL Gua Putri, salah satu objek wisata favorit di Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan (Sumsel) destinasi wisata alam ini menawarkan keindahan yang memikat serta latar belakang sejarah yang kaya.

Gua eksotis ini berada sekitar 35 kilometer dari Kota Baturaja dan menyimpan jejak sejarah Kerajaan Ogan.

Menurut legenda masyarakat OKU, gua ini terbentuk akibat kutukan Sipahit Lidah. Cerita rakyat mengisahkan bahwa saat seorang putri sedang mandi di muara Sungai Semuhun, Sipahit Lidah lewat dan berkeinginan untuk menyapa putri tersebut.

Namun, putri yang bernama Dayang Merindu tidak menghiraukannya. Marah karena tidak dihiraukan, Sipahit Lidah mengutuk Dayang Merindu hingga ia membeku menjadi batu.

Tidak hanya itu, desa tempat tinggal Dayang Merindu juga terkena kutukan, berubah menjadi gua.

Baca Juga: Bawaslu Sumsel Siap Awasi Ketat Pilkada Kotak Kosong di Ogan Ilir dan Empat Lawang

Kini, Gua Putri yang terletak di Bukit Barisan memiliki panjang 159 meter, lebar bervariasi antara 8 hingga 20 meter, dan ketinggian mencapai 20 meter.

Di dalam gua mengalir Sungai Semuhun, anak Sungai Ogan, yang mengalir dari barat ke timur.

Pengunjung yang memasuki gua disarankan untuk mengetuk pintu gua tiga kali sebagai salam penghormatan kepada leluhur.

Begitu masuk, pengunjung akan merasakan suasana yang sejuk dan mendengar gemercik air sungai yang menambah pengalaman wisata. Gua Putri dikenal dengan formasi stalaktit dan stalagmit yang menakjubkan.

Ketika terkena cahaya, dinding gua akan menampilkan warna-warni yang indah, menambah keindahan alam yang ada di tempat ini. (Kurnia)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

D
H
Editor
Hermanto