Sumsel

Potensi Lahan Rawa Sumsel Capai 73 Persen, Padi Apung Mulai Dikembangkan

Kurnia | 21 September 2026, 21:00 WIB
Potensi Lahan Rawa Sumsel Capai 73 Persen, Padi Apung Mulai Dikembangkan

AKURAT.CO SUMSEL Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan terus mencari cara untuk mengoptimalkan lahan rawa sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan daerah.

Salah satu inovasi yang kini dikembangkan adalah Padi Apung, yakni budidaya padi menggunakan media tanam yang dapat mengapung di atas permukaan air.

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumsel Bambang Pramono mengatakan, pengembangan Padi Apung dilakukan sebagai alternatif selain pencetakan sawah secara konvensional.

“Selain pencetakan sawah konvensional, saat ini dinas pertanian juga mengembangkan inovasi pertanian di atas air lewat Padi Apung,” ujar Bambang, Minggu (20/9/2026).

Menurutnya, program tersebut telah berjalan selama sekitar dua tahun dengan dukungan dari Bank Indonesia. Dukungan tersebut berupa penyediaan media tanam apung yang saat ini dikembangkan di kawasan potensial Jakabaring.

Bambang mengatakan, program Padi Apung juga menjadi salah satu inovasi yang ditonjolkan dalam kegiatan pengembangan perbenihan di Sumsel.

“Kita di September 2025 melakukan gebyar perbenihan mengundang seluruh stakeholder terkait dan program yang kita tonjolkan adalah Padi Apung,” katanya.

Baca Juga: Diduga Salah Injak Pedal, Xenia Terperosok ke Kolam di Gandus Palembang

Pengembangan Padi Apung di Jakabaring diarahkan untuk memanfaatkan lahan rawa lebak yang selama ini memiliki potensi besar sebagai lahan pertanian.

Bambang menjelaskan, optimalisasi rawa lebak dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan, mulai dari pencetakan sawah hingga penerapan teknologi pertanian seperti Padi Apung.

Upaya tersebut dinilai penting karena lahan rawa dapat menjadi alternatif ketika lahan pertanian lainnya menghadapi keterbatasan akibat kekeringan.

“Dengan mengoptimalkan lahan rawa lebak, baik melalui cetak sawah maupun inovasi Padi Apung, diharapkan dua masalah bisa diselesaikan sekaligus. Yaitu mengurangi risiko karhutla sekaligus meningkatkan ketahanan pangan di wilayah rawa,” jelasnya.

Selain mendukung produksi pangan, pemanfaatan lahan rawa juga dinilai relevan dengan kondisi Sumsel yang menghadapi ancaman kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan (karhutla).

Bambang sebelumnya menyebut lahan rawa lebak dapat menjadi salah satu pilihan untuk menjaga produksi pertanian saat terjadi kekeringan, termasuk ketika fenomena El Nino berlangsung.

Lahan rawa lebak merupakan wilayah rendah berbentuk cekungan yang mengalami genangan air secara berkala, setidaknya selama satu bulan dalam setahun.

Karakteristik tersebut membuat lahan rawa memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai lahan pertanian sekaligus mendukung ketersediaan pangan.

Sumsel sendiri memiliki potensi lahan rawa yang besar. Lebih dari 73 persen lahan dari keseluruhan area produktif tanam di Sumsel disebut merupakan lahan rawa.

Pemanfaatan lahan tersebut diharapkan dapat memperluas sumber produksi pangan sekaligus mendorong inovasi pertanian yang sesuai dengan karakteristik wilayah Sumsel.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia