Mahasiswa Sumsel Evaluasi 19 Bulan Pemerintahan Prabowo-Gibran, Beri Kartu Merah
AKURAT.CO SUMSEL Aksi unjuk rasa mahasiswa di depan Gedung DPRD Sumatera Selatan, Senin (15/6/2026), diwarnai simbol protes keras terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Aliansi mahasiswa yang tergabung dalam BEM Nusantara Sumsel secara terbuka memberikan "kartu merah" sebagai bentuk evaluasi terhadap 1 tahun 7 bulan kepemimpinan nasional.
Koordinator BEM Nusantara Sumsel, Ilham, mengatakan kartu merah tersebut merupakan simbol kekecewaan mahasiswa terhadap sejumlah kebijakan pemerintah yang dinilai belum menjawab berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
"Kepada Pak Prabowo dan wakil bapak, kami kirimkan kartu merah dari Sumatera Selatan," ujar Ilham dalam orasinya.
Baca Juga: Bawa Isu Ekonomi hingga Penegakan Hukum, Mahasiswa Sumsel Kepung DPRD
Baca Juga: Bawa Isu Ekonomi hingga Penegakan Hukum, Mahasiswa Sumsel Kepung DPRD
Menurutnya, terdapat sejumlah isu yang menjadi perhatian mahasiswa, mulai dari kebijakan energi, kondisi ekonomi masyarakat, hingga penegakan hukum dan perlindungan terhadap aktivis.
Salah satu sorotan utama adalah kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax yang dinilai dilakukan tanpa sosialisasi yang memadai kepada masyarakat. Mahasiswa juga mengaku khawatir terhadap ketersediaan BBM bersubsidi di masa mendatang.
Ilham menilai kondisi tersebut menjadi perhatian serius, terutama bagi masyarakat Sumatera Selatan yang merupakan salah satu daerah penghasil minyak dan gas di Indonesia.
"Di Sumsel masih ditemukan kelangkaan solar, sementara Pertalite juga mulai sulit didapat. Ini yang menjadi kekhawatiran masyarakat," katanya.
Selain isu BBM, mahasiswa turut menyoroti kasus penyiraman air keras terhadap aktivis lingkungan Andre Yunus yang saat ini tengah diproses melalui mekanisme peradilan militer. Menurut mereka, negara harus menjamin perlindungan terhadap setiap warga yang menyampaikan kritik dan aspirasi di ruang publik.
Mahasiswa menegaskan bahwa aktivis yang memperjuangkan kepentingan masyarakat tidak boleh mendapat stigma negatif maupun intimidasi.
"Jangan sampai aktivis yang menyuarakan kepentingan publik justru dianggap sebagai pihak yang merugikan negara. Mereka harus mendapat perlindungan hukum," tegas Ilham.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa juga mendesak pemerintah untuk melakukan evaluasi terhadap sejumlah program dan kebijakan nasional, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih, serta sejumlah regulasi yang berkaitan dengan institusi TNI dan Polri.
Sebagai bentuk keseriusan tuntutan, mahasiswa memberikan tenggat waktu selama tujuh hari kepada pemerintah untuk merespons aspirasi yang disampaikan.
Mereka bahkan mengancam akan meningkatkan skala aksi di berbagai daerah apabila tuntutan tersebut tidak mendapatkan perhatian.
"Kami memberikan waktu 7x24 jam. Jika tidak ada respons yang jelas, maka aksi dengan eskalasi yang lebih besar akan dilakukan," ujar Ilham.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Sumsel Bakal Dilanda Hujan Deras Sepanjang Hari Besok, Masyarakat Diimbau Waspada Cuaca Ekstrem
- 2PLN Palembang Jadwalkan Pemadaman Listrik 2 Kali Hari Ini, Cek Lokasi Terdampaknya
- 3Cek Harga Emas Perhiasan Palembang Senin 2 November 2026, Naik atau Turun?
- 4BSU Kemnaker Cair November 2026, Cek Syarat Penerima dan Besaran Bantuan
- 5Harga Emas Perhiasan Palembang Anjlok Hari Ini, Termurah Tembus Rp13,5 Juta per Suku
- 6Daftar 28 Perusahaan dalam Job Fair Sumsel 2026, Ada Ritel Sampai Keuangan
- 7Ramalan Zodiak Hari Ini 31 Oktober 2026, Bagaimana Nasib Asmara dan Keuanganmu?
- 8Kapan BSU Kemnaker 2026 Cair? Cek Jadwal dan Besaran Bantuannya di Sini
- 9Lindungi Warga dari Asap Karhutla, Puskesmas di Sumsel Diminta Buka 24 Jam
- 105.303 Jemaah Haji Debarkasi Palembang Sudah Kembali, Empat Kloter Masih Ditunggu








