Pengamat: Debat Terakhir Pilgub Sumsel Tak Berdampak Signifikan pada Preferensi Pemilih

AKURAT.CO SUMSEL Debat terakhir Pilgub Sumsel yang berlangsung beberapa waktu lalu dinilai tidak memberikan dampak signifikan terhadap preferensi pemilih.
Debat ini dianggap gagal menarik perhatian publik dan mengubah peta politik jelang pemungutan suara. Kritik dan program yang disampaikan tidak cukup menggugah antusiasme masyarakat, yang sebagian besar sudah menentukan pilihan sebelum debat berlangsung.
Pengamat Politik UIN Raden Fatah Palembang, Yulion Zalpa menilai bahwa debat terakhir lebih banyak diwarnai oleh retorika normatif, tanpa adanya terobosan ide baru yang menarik.
Visi dan misi yang disampaikan oleh para kandidat dianggap serupa dengan dua debat sebelumnya, membuat debat ini terasa kurang menarik dan kurang mempengaruhi pemilih yang sudah memiliki preferensi.
"Debat terakhir ini memang menjadi tahapan yang penting dalam Pilgub, namun sayangnya, apa yang disampaikan oleh para kandidat tidak menawarkan sesuatu yang baru atau mengejutkan," ujarnya, Sabtu (23/11/2024).
Dalam debat tersebut, meski ada upaya untuk mengkritik kebijakan petahana, diskusi yang terjadi cenderung normatif dan minim esensi. Kesempatan untuk menjabarkan visi dan program kerja dengan lebih detail sering kali tidak dimanfaatkan secara maksimal.
"Para kandidat tampak lebih nyaman menggunakan jawaban-jawaban yang telah disiapkan, tetap bermain di zona aman tanpa berani mengelaborasi kebijakan yang diusulkan," katanya.
Baca Juga: Debat Terakhir Pilgub Sumsel 2024, Tiga Paslon Ungkap Solusi untuk Masalah Utama di Sumsel
Fenomena ini disayangkan oleh banyak pihak yang berharap debat bisa menjadi ajang evaluasi kritis kebijakan dan penyampaian solusi nyata. Padahal, sebagai salah satu tahapan penting dalam Pilgub, debat seharusnya memberikan ruang bagi masyarakat untuk menilai kualitas dan kapasitas calon pemimpin mereka secara objektif.
Dalam konteks demokrasi di Sumsel, debat kali ini lebih terasa sebagai sebuah ritual seremonial dibandingkan wadah diskusi yang mendalam. Alhasil, debat kehilangan esensinya sebagai media pembelajaran politik yang mencerahkan publik.
Para kandidat terlihat enggan keluar dari narasi politik yang aman, sehingga dinamika perdebatan tetap berkutat pada pertukaran statement yang sudah umum dan normatif.
"Pendidikan politik lewat debat tampaknya belum berhasil memberikan efek yang signifikan. Visi dan misi yang disampaikan masih sangat umum, tanpa adanya penjelasan konkret tentang bagaimana mereka akan menyelesaikan masalah yang dihadapi masyarakat Sumsel," ungkap seorang pengamat politik yang mengikuti debat tersebut.
Money Politik dan Preferensi Pemilih
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran tentang faktor yang menentukan pilihan pemilih di Sumsel. Tidak bisa dipungkiri, perjalanan pemilu di Indonesia masih sering kali dipengaruhi oleh faktor "money politik" dan ketokohan figur tertentu, daripada pemahaman mendalam atas visi dan misi yang dibawa oleh para kandidat.
Pemilih yang rasional masih terbilang sedikit, yang menunjukkan adanya kegagalan dalam proses pendidikan politik.
"Publik masih cenderung memilih berdasarkan sosok yang dikenal atau faktor finansial, bukan pada visi, misi, atau program yang realistis. Ini menunjukkan pendidikan politik masih belum maksimal, salah satunya lewat medium debat yang ada sekarang," tambahnya. (Kurnia)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









