Sumsel

Ledakan Transaksi QRIS di Sumsel, Tumbuh 316 Persen, Palembang Jadi Kontributor Terbesar

Maman Suparman | 30 April 2025, 18:30 WIB
Ledakan Transaksi QRIS di Sumsel, Tumbuh 316 Persen, Palembang Jadi Kontributor Terbesar

AKURAT.CO SUMSEL Penggunaan transaksi digital di Sumatra Selatan terus menunjukkan tren pertumbuhan yang luar biasa, dengan sistem pembayaran berbasis kode QR, Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS), mencatat lonjakan signifikan.

Bank Indonesia melaporkan, sepanjang kuartal IV/2024, transaksi QRIS di wilayah ini menembus angka Rp4,27 triliun, atau tumbuh 316,54 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Sumsel, Ricky Perdana Gozali, mengatakan bahwa mayoritas transaksi QRIS masih terkonsentrasi di Kota Palembang yang menyumbang lebih dari separuh total merchant pengguna.

“Dari total 884.611 merchant QRIS di Sumsel, sekitar 55,46 persen berada di Palembang. Ini menunjukkan bagaimana infrastruktur dan konektivitas digital di kota ini mendukung adopsi transaksi nontunai,” ujar Ricky, Rabu (30/4/2025).

Peningkatan adopsi QRIS dinilai sejalan dengan masifnya digitalisasi sistem pembayaran di Sumsel.

Baca Juga: Polda Sumsel Pastikan Proses Hukum Bripka Rio Rolando Tetap Berjalan, Bantah Ada Upaya Damai

Selain efisiensi, QRIS juga dinilai mampu memperluas inklusi keuangan, terutama bagi pelaku UMKM yang kini dapat menjangkau konsumen tanpa perlu perangkat pembayaran konvensional.

Tak hanya dari sisi volume, jumlah pengguna uang elektronik di Sumsel juga meningkat tajam.

Sepanjang kuartal IV/2024, peredaran uang elektronik mencapai 3,11 juta unit, tumbuh 28,11 persen yoy. Dari sisi transaksi, nilai penggunaan uang elektronik mencapai Rp2,69 triliun, naik 7,27 persen, dengan volume transaksi sebanyak 29,38 juta, tumbuh 14,89 persen.

Ricky menegaskan bahwa tren pertumbuhan ini turut mendukung strategi Bank Indonesia dalam menurunkan ketergantungan terhadap uang tunai.

Data BI menunjukkan bahwa peredaran uang kartal di Sumsel pada kuartal I/2025 mengalami penurunan outflow menjadi Rp5,76 triliun, lebih rendah dari periode yang sama tahun lalu.

“Meluasnya penggunaan instrumen digital mencerminkan pergeseran perilaku masyarakat yang kini lebih nyaman dengan pembayaran nontunai. Ini menjadi indikator bahwa digitalisasi ekonomi terus bergerak ke arah yang positif,” tutupnya.

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
K
Editor
Kurnia