Sumsel

Gubernur Sumsel Minta Kementerian PU Duplikasi Jembatan Tipe CH Usai Insiden Muara Lawai

Maman Suparman | 3 Juli 2025, 15:09 WIB
Gubernur Sumsel Minta Kementerian PU Duplikasi Jembatan Tipe CH Usai Insiden Muara Lawai

AKURAT.CO SUMSEL Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel), Herman Deru, meminta Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk menduplikasi sejumlah jembatan bertipe Calender Hamilton (CH) yang tersebar di wilayah Sumsel.

Permintaan tersebut dilayangkan sebagai langkah antisipasi menyusul ambruknya Jembatan Muara Lawai di Kabupaten Lahat beberapa waktu lalu.

Hal itu diungkapkan Kepala Dinas PU Bina Marga dan Tata Ruang Provinsi Sumsel, M. Affandi. Ia menyebutkan bahwa surat resmi telah dikirimkan kepada Menteri PUPR sebagai tindak lanjut instruksi Gubernur.

"Pasca kejadian di Muara Lawai, Gubernur langsung mengirim surat ke Kementerian PUPR untuk percepatan duplikasi jembatan tipe CH yang masih ada di Sumsel. Jumlahnya sekitar 13 jembatan," kata Affandi, Rabu (2/7/2025).

Menurutnya, jembatan tipe CH yang digunakan sejak era 1970-an kini telah berusia lebih dari 40 tahun. Umur teknis yang panjang itu dinilai meningkatkan risiko kerusakan, terutama jika dilintasi kendaraan berat secara berlebihan.

“Jembatan CH ini dulu dibangun pada masa 1970-an. Di Jawa, sebanyak 36 jembatan CH sudah selesai diduplikasi dengan pendanaan dari APBN. Kita harap hal serupa juga bisa diterapkan di Sumsel,” jelasnya.

Affandi menambahkan bahwa jembatan-jembatan CH di Sumsel umumnya berada di jalur strategis yang menghubungkan antarwilayah kabupaten dan kota.

Jalur-jalur tersebut masuk dalam kewenangan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN), seperti ruas Simpang Belimbing, Muara Enim, hingga Lahat.

Terkait insiden ambruknya Jembatan Muara Lawai, pihaknya bersama Komisi IV DPRD Sumsel dan BBPJN telah menggelar rapat koordinasi. Dalam pertemuan itu, disepakati bahwa jembatan akan didesain ulang untuk pembangunan kembali.

Sementara itu, upaya penggantian sementara menggunakan jembatan bailey tidak bisa direalisasikan karena panjang bentang jembatan yang rusak mencapai 50 meter, sedangkan bailey yang tersedia hanya 30 meter.

"Jembatan darurat bailey sudah kami siapkan, tapi tidak mencukupi panjang bentang jembatan di Muara Lawai, jadi belum bisa dimanfaatkan," terangnya.

Affandi juga menyebut, proses evakuasi dump truck yang jatuh akibat ambruknya jembatan telah rampung pada Senin malam.

Ia menegaskan, bila hasil penyelidikan menunjukkan adanya kelalaian dari pihak pengusaha angkutan, maka tidak menutup kemungkinan pembangunan jembatan baru bisa dilimpahkan ke pihak swasta atau asosiasi pengusaha, seperti yang pernah dilakukan di daerah Lalan.

“Kalau dalam penyidikan nanti terbukti ada kelalaian dari pihak pengangkut, pembangunan jembatan bisa juga dilakukan oleh asosiasi pengusaha. Ini tergantung hasil investigasi aparat,” pungkasnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
K
Editor
Kurnia