Sumsel

Kenaikan Tarif Impor AS Ancam Ekspor Sawit Indonesia, GAPKI Sumsel Desak Negosiasi Dagang

Maman Suparman | 4 April 2025, 22:00 WIB
Kenaikan Tarif Impor AS Ancam Ekspor Sawit Indonesia, GAPKI Sumsel Desak Negosiasi Dagang

AKURAT.CO SUMSEL Kebijakan Amerika Serikat yang dipimpin oleh Presiden Donald Trump untuk menerapkan tarif impor lebih tinggi kini menjadi ancaman serius bagi sektor ekspor sawit Indonesia.

Produk kelapa sawit, termasuk Crude Palm Oil (CPO), menghadapi tekanan berat di pasar AS akibat kebijakan tersebut.

Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Sumsel, Alex Sugiarto, menyatakan bahwa tarif baru yang diberlakukan AS dapat mengurangi daya saing produk sawit Indonesia di pasar global.

Ia memperkirakan dampak signifikan terutama pada penurunan volume ekspor dan pendapatan petani di daerah.

"Kenaikan tarif ini jelas membuat produk kita semakin sulit bersaing. Dampaknya bukan hanya terhadap volume ekspor dalam jangka pendek, tapi juga merugikan petani dan mengurangi pendapatan daerah," ujar Alex, Jumat (4/4/2025).

Alex menilai bahwa peningkatan tarif tersebut berdampak langsung pada biaya ekspor, terutama bagi pelaku industri kelapa sawit di Indonesia.

Baca Juga: Harga Emas Melambung Tinggi Akibat Efek Trump, Berikut Daftarnya

Oleh karena itu, ia mendesak pemerintah untuk segera melakukan negosiasi dagang dengan AS guna mengurangi risiko dari kebijakan tarif yang tinggi tersebut.

"GAPKI Sumsel berharap pemerintah dapat bergerak cepat melakukan negosiasi perdagangan. Ini penting untuk meminimalkan dampak tarif terhadap produk ekspor kita," tambahnya.

Menurut Alex, pemerintah perlu mempertimbangkan berbagai kebijakan insentif seperti keringanan pajak ekspor dan pengurangan pungutan ekspor untuk membantu para pengusaha menghadapi kenaikan biaya dan menurunnya permintaan akibat tarif baru tersebut.

Meskipun ekspor CPO ke Amerika Serikat tidak sebesar ke negara-negara utama lainnya seperti India, Tiongkok, dan Pakistan, Alex menekankan bahwa situasi ini perlu menjadi momen untuk memperkuat hilirisasi industri sawit di Indonesia.

"Dalam situasi ini, kita harus melihat peluang untuk mendorong hilirisasi sawit, khususnya di Sumsel yang memiliki posisi geografis strategis dan dukungan penuh dari pemerintah daerah," jelasnya.

Menurutnya, pengembangan produk turunan kelapa sawit dapat menjadi solusi jangka panjang untuk menghadapi kebijakan proteksionisme dari negara lain.

Alex juga mencermati bahwa kebijakan tarif tinggi AS tidak hanya berdampak negatif bagi Indonesia, namun dapat membuka peluang baru di pasar lain. Salah satu yang disorot adalah potensi peningkatan ekspor minyak sawit ke Tiongkok.

"Dengan kebijakan pajak impor tinggi AS terhadap produk nabati lainnya, seperti kedelai, ada kemungkinan besar Tiongkok akan mengalihkan permintaannya ke minyak sawit dari Indonesia," ungkapnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
K
Editor
Kurnia