Sumsel

Sumsel Siaga Darurat Bencana: 10 Daerah Masuk Zona Merah, Waspada Cuaca Ekstrem Saat Nataru

Maman Suparman | 22 Desember 2025, 16:30 WIB
Sumsel Siaga Darurat Bencana: 10 Daerah Masuk Zona Merah, Waspada Cuaca Ekstrem Saat Nataru
 
AKURAT.CO SUMSEL Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Selatan (Sumsel) mengeluarkan peringatan keras kepada masyarakat yang bermukim di lereng perbukitan dan bantaran sungai seiring masuknya puncak musim hujan.
 
Langkah ini diambil guna meminimalisir dampak bencana hidrometeorologi yang diprediksi akan mencapai puncaknya bertepatan dengan momen libur Natal dan Tahun Baru (Nataru).

Kalaksa BPBD Sumsel, M Iqbal Alisyahbana melalui Kabid Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, mengimbau warga untuk terus menjalin komunikasi aktif dengan perangkat desa maupun tim tanggap bencana di wilayah masing-masing. Terutama terkait pemantauan debit air dan tanda-tanda alam yang berpotensi memicu bencana.

"Dengan adanya status siaga darurat ini, diharapkan dampak bencana hidrometeorologi dapat diminimalkan, serta keselamatan masyarakat di wilayah Sumsel dapat lebih terjaga," tegas Sudirman, Senin (22/12/2025).

Hingga saat ini, tercatat sebanyak 10 daerah di Sumsel telah resmi menyandang status siaga darurat bencana, yakni Kabupaten OKU, Pagar Alam, Prabumulih, Musi Banyuasin (Muba), Ogan Ilir, Muratara, OKI, Lubuk Linggau, OKU Selatan, dan Banyuasin.

Baca Juga: Antisipasi Cuaca Ekstrem, Sumsel Perketat Pengawasan Destinasi Wisata Jelang Nataru

Penetapan status di sepuluh wilayah ini menjadi dasar bagi pemerintah daerah untuk lebih sigap dalam mengerahkan personel serta peralatan demi melindungi warga dari ancaman dampak cuaca ekstrem

Penetapan status ini memungkinkan pemerintah daerah untuk memaksimalkan seluruh sumber daya, baik personel maupun peralatan, guna mempercepat penanganan jika terjadi keadaan darurat.

Data BPBD menunjukkan bahwa sepanjang Januari hingga 17 Desember 2025, Sumatera Selatan telah dihantam sebanyak 259 kejadian bencana. Bencana banjir menjadi yang paling dominan dengan frekuensi 98 kali, disusul angin kencang (81 kali), kebakaran pemukiman (52 kali), dan tanah longsor (24 kali).

Dampak dari rentetan bencana tersebut tidaklah ringan. Tercatat sebanyak 62.800 rumah warga sempat terendam banjir, 156 bangunan rusak berat, dan ribuan hektare lahan pertanian serta perkebunan mengalami kerusakan signifikan.

Tragisnya, tiga orang dilaporkan meninggal dunia dan tujuh lainnya mengalami luka-luka akibat berbagai insiden bencana tersebut.

Kewaspadaan ekstra perlu ditingkatkan pada periode 25 Desember 2025 hingga 1 Januari 2026. Berdasarkan data BMKG Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang, terbentuknya siklon tropis di wilayah Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) berpotensi memicu cuaca ekstrem.

Kepala BMKG SMB II Palembang, Siswanto, menjelaskan bahwa hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang disertai angin kencang berpeluang besar terjadi selama pekan libur panjang tersebut.

"Kondisi ini menyebabkan munculnya potensi bencana banjir dan angin kencang. Perlu kewaspadaan bersama dari pemerintah daerah maupun masyarakat," pungkas Siswanto.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
K
Editor
Kurnia