Sumsel

Jadi Salah Satu Destinasi Wisata Populer, Yuk Simak Kisah Cinta yang Tersimpan dari Pulau Kemaro

Deni Hermawan | 22 Desember 2023, 17:05 WIB
Jadi Salah Satu Destinasi Wisata Populer, Yuk Simak Kisah Cinta yang Tersimpan dari Pulau Kemaro

AKURAT.CO SUMSEL Masyarakat kota Palembang pasti tidak asing lagi dengan Pulau Kemaro. Dilansir dari jurnal "Legenda Pulau Kemaro: Studi Pandangan Pengunjung dan Hubungannnya dengan Ayat-ayat Keimanan" yang ditulis oleh John Supriyanto, dalam sepanjang tahun 2017, destinasi ini telah mendapatkan kunjungan lebih dari 30.000 orang.

Asal-usul nama "Pulau Kemaro" berasal dari kata 'kemarau', dikarenakan pulau ini tetap tidak tenggelam atau terendam meskipun air Sungai Musi sedang pasang.

Pulau Kemaro berada di sebelah timur dari pusat Kota Palembang. Pulau Kemaro memiliki luas wilayah sekitar 79 hektar dengan ketinggian 5 meter di atas permukaan laut.

Baca Juga: Teater Dulmuluk, Warisan Kesenian Khas Palembang yang Mulai Terlupakan

Kisah Cinta Tragis di Balik Pulau Kemaro

Tahukah kamuu, dibalik banyaknya pengunjung yang menjadikan tempat ini sebagai destinasi wisata, terdapat sebuah kisah cinta tragis. Sejarah ini sudah ada sejak Kerajaan Sriwijaya ada di Kota Palembang yang erat kaitannya dengan kisah putri dari raja Kerajaan Sriwijaya dan putra raja Kerajaan Tiongkok.

Menurut cerita yang terukir pada sebuah batu di sebelah Klenteng Hok Tjing Rio, pada masa lampau, ada seorang pangeran dari Negeri Cina yang bernama Tan Bun Ann.

Dalam versi yang berkembang, Tan Bun An tiba di Palembang untuk berdagang. Saat meminta izin dari Raja Palembang, dia bertemu dengan putri raja bernama Siti Fatimah.

Cinta pun mekar di antara Tan Bun An dan Siti Fatimah. Mereka saling mencintai dan berniat untuk menikah. Tan Bun An mengajak Siti Fatimah ke Cina untuk bertemu orang tuanya.

Setelah beberapa waktu, keduanya kembali ke Palembang. Mereka membawa tujuh guci yang berisi emas. Namun, di muara Sungai Musi, Tan Bun Han ingin melihat isinya. Namun, yang terlihat bukan emas, melainkan sayuran sawi-sawi asin.

Tanpa ragu, dia membuang guci-guci itu ke laut. Namun, guci terakhir jatuh dan pecah di dek, menyadarkan sang pangeran bahwa guci yang telah dibuangnya ke laut ternyata ada emas di dalamnya. Tanpa ragu, dia melompat ke sungai untuk mengambil emas yang telah dibuangnya.

Seorang pengawalnya juga ikut melompat untuk membantu, namun keduanya tak kunjung muncul. Akhirnya, Siti Fatimah pun menyusul dan ikut terjun ke Sungai Musi.

Nahasnya, setelah itu pangaran Tan Bun Han dan Siti fatimah tidak terlihat lagi.

Daya Tarik Pulau Kemaro

Salah satu hal yang memukau dari Pulau Kemaro adalah pagoda berlantai 9 yang didirikan pada tahun 2006. Pagoda ini merupakan bagian integral dari kompleks Klenteng Hok Tjing Rio yang telah berdiri sejak tahun 1962.

Klenteng ini menjadi lokasi yang ramai selama perayaan Imlek dan Cap Go Meh. Pagoda tersebut memperlihatkan gaya arsitektur yang kuat dengan unsur budaya Tionghoa yang mencolok, menawarkan keindahan yang memikat dan sangat cocok sebagai latar untuk foto yang Instagramable.

Itulah kisah cinta yang melegenda di Pulau Kemaro. Semoga bermanfaat. (MG/CC Dandy Dwi Putra Handho)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

D
H
Editor
Hermanto