Jadi Salah Satu Destinasi Wisata Populer, Yuk Simak Kisah Cinta yang Tersimpan dari Pulau Kemaro

AKURAT.CO SUMSEL Masyarakat kota Palembang pasti tidak asing lagi dengan Pulau Kemaro. Dilansir dari jurnal "Legenda Pulau Kemaro: Studi Pandangan Pengunjung dan Hubungannnya dengan Ayat-ayat Keimanan" yang ditulis oleh John Supriyanto, dalam sepanjang tahun 2017, destinasi ini telah mendapatkan kunjungan lebih dari 30.000 orang.
Asal-usul nama "Pulau Kemaro" berasal dari kata 'kemarau', dikarenakan pulau ini tetap tidak tenggelam atau terendam meskipun air Sungai Musi sedang pasang.
Pulau Kemaro berada di sebelah timur dari pusat Kota Palembang. Pulau Kemaro memiliki luas wilayah sekitar 79 hektar dengan ketinggian 5 meter di atas permukaan laut.
Baca Juga: Teater Dulmuluk, Warisan Kesenian Khas Palembang yang Mulai Terlupakan
Kisah Cinta Tragis di Balik Pulau Kemaro
Tahukah kamuu, dibalik banyaknya pengunjung yang menjadikan tempat ini sebagai destinasi wisata, terdapat sebuah kisah cinta tragis. Sejarah ini sudah ada sejak Kerajaan Sriwijaya ada di Kota Palembang yang erat kaitannya dengan kisah putri dari raja Kerajaan Sriwijaya dan putra raja Kerajaan Tiongkok.
Menurut cerita yang terukir pada sebuah batu di sebelah Klenteng Hok Tjing Rio, pada masa lampau, ada seorang pangeran dari Negeri Cina yang bernama Tan Bun Ann.
Dalam versi yang berkembang, Tan Bun An tiba di Palembang untuk berdagang. Saat meminta izin dari Raja Palembang, dia bertemu dengan putri raja bernama Siti Fatimah.
Cinta pun mekar di antara Tan Bun An dan Siti Fatimah. Mereka saling mencintai dan berniat untuk menikah. Tan Bun An mengajak Siti Fatimah ke Cina untuk bertemu orang tuanya.
Setelah beberapa waktu, keduanya kembali ke Palembang. Mereka membawa tujuh guci yang berisi emas. Namun, di muara Sungai Musi, Tan Bun Han ingin melihat isinya. Namun, yang terlihat bukan emas, melainkan sayuran sawi-sawi asin.
Tanpa ragu, dia membuang guci-guci itu ke laut. Namun, guci terakhir jatuh dan pecah di dek, menyadarkan sang pangeran bahwa guci yang telah dibuangnya ke laut ternyata ada emas di dalamnya. Tanpa ragu, dia melompat ke sungai untuk mengambil emas yang telah dibuangnya.
Seorang pengawalnya juga ikut melompat untuk membantu, namun keduanya tak kunjung muncul. Akhirnya, Siti Fatimah pun menyusul dan ikut terjun ke Sungai Musi.
Nahasnya, setelah itu pangaran Tan Bun Han dan Siti fatimah tidak terlihat lagi.
Daya Tarik Pulau Kemaro
Salah satu hal yang memukau dari Pulau Kemaro adalah pagoda berlantai 9 yang didirikan pada tahun 2006. Pagoda ini merupakan bagian integral dari kompleks Klenteng Hok Tjing Rio yang telah berdiri sejak tahun 1962.
Klenteng ini menjadi lokasi yang ramai selama perayaan Imlek dan Cap Go Meh. Pagoda tersebut memperlihatkan gaya arsitektur yang kuat dengan unsur budaya Tionghoa yang mencolok, menawarkan keindahan yang memikat dan sangat cocok sebagai latar untuk foto yang Instagramable.
Itulah kisah cinta yang melegenda di Pulau Kemaro. Semoga bermanfaat. (MG/CC Dandy Dwi Putra Handho)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1BMKG Prediksi 12 Daerah Sumsel Akan Dilanda Hujan Besok, Cek Daftar Wilayahnya
- 2Cek Bansos Kemensos September 2026, BPNT Rp600 000 Siap Cair
- 3Ramai Isu Gempa Megathrust Ancam Indonesia, Apa Saja yang Harus Disiapkan?
- 47 Daerah Sumsel Berstatus Awas Kekeringan, Palembang dan Prabumulih Siaga
- 55 Ramalan Zodiak Hari Ini yang Diprediksi Bersedih, Ada yang Sulit Melupakan Masa Lalu
- 6Harga iPhone Lama Usai iPhone 18 Pro Meluncur, Naik hingga Rp3 Jutaan per Produk
- 7Profil dan Rekam Jejak Suahazil Nazara, Menteri Keuangan Baru Pengganti Purbaya Yudhi Sadewa
- 8PLN Jadwalkan Pemeliharaan Listrik di Palembang, Cek Wilayah dan Jamnya
- 9Lindungi Warga dari Asap Karhutla, Puskesmas di Sumsel Diminta Buka 24 Jam
- 105.303 Jemaah Haji Debarkasi Palembang Sudah Kembali, Empat Kloter Masih Ditunggu









