Sumsel

Harga Minyak Tembus US$100, Gangguan Pasokan Timur Tengah Bikin Pasar Tegang

Kurnia | 16 September 2026, 12:00 WIB
Harga Minyak Tembus US$100, Gangguan Pasokan Timur Tengah Bikin Pasar Tegang
Ilustrasi harga minyak dunia naik

AKURAT.CO SUMSEL Harga minyak mentah dunia kembali melonjak di tengah meningkatnya gangguan terhadap jalur distribusi energi di kawasan Timur Tengah.

Pasar kembali mencemaskan pasokan setelah Arab Saudi menghentikan sementara sebagian pengiriman minyak akibat gangguan pada infrastruktur ekspornya.

Pada perdagangan Selasa (15/9/2026), harga minyak mentah Brent naik 2,9% menjadi US$108,75 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melesat 4,4% ke level US$105,83 per barel.

Kenaikan tersebut memperpanjang tren penguatan harga minyak. Dalam sebulan terakhir, harga komoditas energi tersebut telah meningkat lebih dari 20% seiring memburuknya situasi keamanan di kawasan Teluk Persia.

Baca Juga: Harga BBM Pertamina, Vivo, Shell dan BP Rabu 16 September 2026

Kekhawatiran pasar meningkat setelah Arab Saudi dikabarkan memberi tahu sejumlah pembeli di Eropa mengenai pembatalan sebagian pengiriman minyak mentah untuk September.

Gangguan tersebut berkaitan dengan penghentian sementara operasional East-West Pipeline, salah satu jalur penting yang digunakan untuk mengalirkan minyak Saudi.

Jalur tersebut semakin penting setelah akses melalui Selat Hormuz mengalami gangguan. Pipa ini memiliki kapasitas pengangkutan hingga sekitar 7 juta barel minyak per hari.

Arab Saudi menyebut penghentian operasi dilakukan sebagai langkah pencegahan. Namun, pemerintah setempat belum memerinci nilai kerusakan maupun kapan seluruh operasional dapat kembali normal.

Menteri Energi Amerika Serikat Chris Wright mengatakan gangguan pada jalur tersebut diperkirakan tidak berlangsung lama.

Menurut Wright, aktivitas pengiriman minyak dapat kembali berjalan dalam beberapa hari.

Pernyataan tersebut sedikit meredakan kekhawatiran mengenai potensi gangguan pasokan berkepanjangan. Meski demikian, pasar masih mencermati perkembangan keamanan di kawasan yang menjadi salah satu pusat produksi dan distribusi minyak dunia.

Tekanan terhadap harga minyak tidak hanya datang dari Arab Saudi.

Operasi perusahaan minyak nasional Libya juga terganggu setelah aksi protes menyebabkan aktivitas di dua ladang minyak dan sebuah stasiun pompa harus dihentikan.

Situasi tersebut menambah kekhawatiran pasar karena gangguan produksi dan distribusi secara bersamaan dapat mempersempit pasokan minyak yang tersedia.

Kondisi keamanan di Selat Hormuz juga masih menjadi perhatian pelaku pasar.

Kelompok Houthi yang didukung Iran dilaporkan kembali melancarkan serangan menggunakan drone dan rudal ke sejumlah wilayah Arab Saudi, termasuk Khamis Mushait, Abha, dan Taif.

Sementara itu, Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) melaporkan sedikitnya dua kapal tanker mengalami serangan sejak Sabtu (12/9).

Ketidakpastian tersebut membuat pasar minyak semakin sensitif terhadap setiap perkembangan di kawasan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia